Showing posts with label books. Show all posts
Showing posts with label books. Show all posts

Friday, November 9, 2012

Tips Lancar Mencari Gagasan Tulisan

Setiap orang memiliki kekuatan psikologis yang berbeda-beda dan hal itu merupakan akibat dari latar belakang yang berbeda-beda pula.
Kenapa orang yahudi begitu didoktrin pintar? Eran Katz dalam bukunya "Jerome Become Genius" yang edisi Indonesianya diterbitkan oleh Ufuk, menjelaskan bahwa, dalam tradisi pendidikan orang yahudi, mereka berusaha meletakkan anak-anak mereka pada suasana belajar yang senyaman mungkin, hingga jika perlu, saat mereka belajar tidak dalam suasana yang berisik, tenang, lebih baik jika bisa mendengar gemericik air dari mata air.

Monday, February 27, 2012

novel: Zero Day


An airliner falls from the sky. A nuclear reactor nearly melts down. An oil tanker runs aground. Jeff Aiken and Daryl Haugen believe these incidents are the result of a massive cyber attack that’s under way. The clock is ticking as they race to figure out who is behind it and how to stop it. Written by a global authority on cyber security, Zero Day presents a chilling “what if” scenario that, in a world completely reliant on technology, is more than possible today—it’s a cataclysmic disaster just waiting to happen._ (http://www.zerodaythebook.com/)


Mark datang ke Microsoft pada 2006 untuk membantu peningkatan sisi seni dari Windows, kini dalam karya terakhir yang dipaksa muncul, dia memunculkan kewaspadaan atas segala bentuk cyberterrorism yang terlalu nyata. Itulah tanggapan Bill Gates atas karya Mark Russinovich (Zeno Day, novel).
Latar belakang penulis memang cukup membantu seseorang dalam mempopulerkan karyanya, Mark yang oleh Amazon.com dikatakan sebagai salah satu Microsoft Guru tentu memberikan ketertarikan sendiri bagi para konsumen-pembaca untuk novelnya.
Dirilis pada 15 Maret 2011 oleh Thomas Dunne Books, Anda dapat membaca tujuh halaman kutipan pilihan oleh Mark di Scribd. Ketertarikan pada jenis konten sebuah buku juga dipengaruhi oleh latar belakang calon pembaca, tidak semua konsumen menyukai semua jenis buku yang diterbitkan.
Sebagaimana di atas, asumsi juga dapat dibangun dengan menganalogikan nalar penulis dengan latar belakangnya sebagai penekanan, yang kadang terlepas dari baik-buruknya cara (kemampuan) bertutur novelnya. Dari kutipan (excerpt) di scribd.com terlihat bahwa Mark memberikan narasi yang menarik pada peristiwa-peristiwa yang terjadi. Semoga saja ini bukan kutipan terbaik di antara lainnya, semoga keseluruhan novelnya juga mampu membawa kita larut dalam alur ceritanya. Dari 185 customers yang memberikan rating di amazon.com, 114 di antaranya sepakat bahwa novel ini excellent (lima bintang).

Tuesday, September 20, 2011

Ancaman Oligarki_Winters



link Abstact

Ini adalah link abstract dari ulasan bukunya Jeffrey Winters tentang Oligarchy, yang salah satunya menyinggung Indonesia.

Hanya link yang saya share di sini.

Ini adalah shared slide (*.ppt) dari suatu group pendukung "Sri Mulyani for President 2014" di facebook. Hasil dari diskusi tentang permasalahan oligarki dan potensinya yang bisa saja muncul lagi di masa presiden yang kini berkuasa.

Untuk penjelasan (uraian) lengkapnya bisa disimak pada tulisan saya lainnya:

[Berpikir tentang korupsi+politik+ekonomi Indonesia]

Monday, August 15, 2011

Shalat, sebuah perjalanan 'kembali'



Shalat di Mata Sufi: Anugerah Terbesar dari ALLAH
diterjemahkan dari buku aslinya berbahasa inggris:
The Illuminated Prayers: The Five-Times Prayer of the Sufis as Revealed by Jalaluddin Rumi & Bawa Muhayyaddin,
Karya bersama: Coleman Barks & Michael Green
Terbitan: The Ballantine Publishing Group, New York, 2000
Terbitan indonesia: Pustaka Hidayah | Bandung | 2003
Tebal Buku: 154 halaman

---

Shalat adalah perjalanan seorang makhluk kepada Khaliknya. ini adalah usaha seorang hamba untuk senantiasa dekat dan terus-menerus berusaha untuk selalu ingat kepada Rabbnya.

dalam terminologi "anugerah terbesar dari ALLAH" yang dibawa oleh kedua pengarang buku ini, Michael Green dan Coleman Barks, ini menjelaskan tentang tuntunan seorang guru, Bawa Muhaiyaddin. buku ini seperti sebuah ucapan terima kasih kepada sang guru. berikut saya akan kutipkan satu paragraf pembuka, pengantar pada sosok Bawa.

---

..... Orang yang membangkitkan kesadaran kami adalah yang bernama Bawa Muhaiyaddin. bawa kurang dikenal dibandingkan Rumi. ada pertemuan-pertemuan lain dengan Bawa sekitar pergantian abad ini, namun dia benar-benar memasuki sejarah modern pada usia empat puluhan ketika seseorang menemukannya di sebuah tempat keramat di Sri Lanka, sebuah tempat yang sangat dihormati oleh kaum Hindu, Budha, Kristiani, dan Muslim. dia kelihatannya sangat tua usianya, tidak dipengaruhi oleh perjalanan waktu, meskipun lahiriahnya nampak muda dan kulitnya selembut kulit anak-anak. Bawa selalu mengesampingkan pertanyaan-pertanyaan tentang sejarah pribadinya, sering kali dengan jawaban bahwa deskripsi tentang Tuhan adalah satu-satunya deskripsi paling penting. pada akhirnya, Bawa pergi ke Amerika, dan memulai hidup bersahaja di sebuah rumah di philadelphia. dia tak punya apa-apa. dia bukan milik siapa-siapa. dan hidupnya didedikasikan untuk kata-kata Rumi: Seorang sufi terbuka kedua tangannya untuk alam semesta, dan mendedikasikan kedua tangannya serta merta dan tanpa mengharapkan imbalan. tak seperti orang yang mengemis di jalanan minta uang demi kelangsungan hidupnya, seorang darwisy memohon agar Anda mau menerima dedikasi hidupnya. dia tidak memasang tarif, tak mau menerima hadiah, dan memperlakukan setiap pencari kebenaran seperti keluarga sendiri. orang yang hadir di saat waktu makan, selalu dimintai untuk tidak pergi. dia akan memberikan pertanyaan sederhana yang mengandung inspirasi: apa yang anda inginkan? apa pun jawabannya, Bawa akan mengembalikan jawaban tersebut dalam keadaan sudah mengalami perubahan yang menyeluruh .....

---

seperti bimbingan tentang shalat, buku ini disusun berdasarkan urutan-urutan:
  • Mukadimah
  • Shalat
  • Waktu-waktu
  • Azan
  • Wudhu
  • Tempat untuk shalat
  • Kiblat
  • Shalat
  • Lebih jauh
  • Bacaan
dengan pemaparan dan menggalian hikmah spiritual yang khas Rumi dan Bawa, kita akan merasakan indahnya shalat dan insyaALLAH akan dapat menikmati syahdunya ikatan cinta dalam tiap saat, rakaat, dan seluruh sujud serta munajad di dalamnya. yang dapat membimbing kita lebih dekat dan lebih pekat dalam CintaNya.

akhir kata: selamat menikmati dan mensyukuri tiap detik dalam shalat dalam seluruh waktu kita. BarakALLAH.

The Innovation Killer



title: The Innovation Killer
pub.: amacom | new york | 2006
pages: xx + 219 pages

---

excerpt from the book:

we face dilemma. when it comes to innovation, the same hard-won experience, best practices, and processes that are
the cornerstones of an organization’s success may be more like millstones that threaten to sink it. said another way, the weight of what we know, especially what we collectively ‘‘know,’’ kills innovation. Yet in many fields what we must know in order to make even the most basic contribution is ever-increasing.

it is a paradox. the paradox of expertise. you can’t innovate with it. you can’t innovate without it.
why can knowledge and experience be so lethal to innovation?

because when we become expert, we often trade our ‘‘what if’’ flights of fancy for the grounded reality of ‘‘what is.’’ But insight and innovation require a certain lightness of mind. perhaps Wilbur and Orville Wright, two brothers with high-school educations who earned their living building bicycles, didn’t know enough to realize they were attempting the impossible when they first defied gravity in a powered aircraft on December 17, 1903 in Kitty Hawk, North
Carolina. If they had been the recipients of more formal education, would they have had the attitude that Orville illustrates with this quote? ‘‘If we worked on the assumption that what is accepted as true really is true, then there would be little hope for advance.’’

perhaps not. noted economist and Princeton professor emeritus, William J. Baumol, wrote a paper entitled ‘‘Education for Innovation,’’ outlining the negative impact formal education can have on innovative thinking capability because it so completely indoctrinates individuals in the expert thinking of a field. He notes that many breakthrough inventions are the work of individuals who have relatively low levels of formal training. Citing the Wright Brothers as well as other relatively under-formally-educated examples—such as Bill Gates, Thomas Edison, and Steve Jobs—Baumol introduces the hypothesis that education meant to help a student master a subject might be completely at odds with fostering innovation in that subject.

now contrast this caution against overeducation with the obvious fact that without increasing levels of knowledge there would be no progress. Professor Benjamin Jones of Northwestern University recalls Isaac Newton’s famous words of 1676, ‘‘If I have seen further it is by standing on the shoulders of giants.’’ He then notes that ‘‘if one is to stand on the shoulders of giants, one must first climb up on their backs, and the greater the body of knowledge, the harder this climb becomes.’’ He asserts that over time the educational burden will continue to increase as would-be innovators strive to learn what their predecessors knew and then go beyond it. As one proof-point of this assertion he notes that the average age at which great inventors and Nobel Prize winners introduced their ‘‘great innovations’’ increased by six years during the last century.

this statistic isn’t difficult to believe. few would argue that modern aeronautics engineers need to know everything the Wright Brothers did plus the knowledge accumulated in over a century since then in order to contribute meaningfully to the development of new airplanes. Or, that the knowledge required to invent the wheel was minuscule compared to that required to build a Toyota Prius or a Mercedes Benz today. Or, even that business managers need to have a deeper understanding of organizational science, manufacturing techniques, and financial models than the business owners of earlier generations.

---

the book content:

[part 1] what’s weighing us down
chapter 1. our own worst enemy: how the burden of what we know limits what we can imagine
chapter 2. groupthink: the strongest force on earth: why sustained innovation is so darned hard: part 1
chapter 3. expertthink: groupthink on steroids: why sustained innovation is so darned hard: part 2

[part 2] zero-gravity thinkers
chapter 4. time travel to see the naked emperor: the benefit of psychological distance
chapter 5. just curious: the benefit of renaissance tendencies
chapter 6. smart about something else: the benefit of related expertise

[part 3] defying gravity
chapter 7. the collaborator: what does a zero-gravity thinker actually do?
chapter 8. when and where . . . when do you need a collaborator and where do you find one?
chapter 9. how to work with a zero-gravity thinker: eleven questions and answers
chapter 10. do-it-yourself weightless thinking: losing the weight of expertise on your own
chapter 11. the courage to go where no one has gone before: the role of the leader

---

u can buy this book in amazon.com:

innovation killer

Sekelumit Sejarah Psikoanalisa (Sigmund Freud)



judul: Sekelumit Sejarah Psikoanalisa
penerbit: Gramedia | Jakarta | 1983
tebal buku: xii + 148 halaman

---

sejarah psikoanalisa menegaskan bahwa istilah "psikoanalisa" pada mulanya hanya dipergunakan dalam hubungan dengan pemikiran Freud tentang hidup psikis manusia, sehingga "psikoanalisa" sana artinya dengan "psikoanalisa Freud". dengan menegaskan itu diakui bahwa Freud merupakan pemimpin gerakan psikoanalisa, yang timbul di daratan Eropa lalu menyebar ke inggris, amerika serikat, dan ke seluruh dunia. dialah pencetus dasar-dasar pemikiran psikoanalisa, yang berkembang sampai sekarang. gerakan psikoanalisa berhasil membawa manusia semakin jauh melangkah ke dalam medan rahasia pribadi manusia.

dua karangan asli dari Freud yang dipilih untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dr.K.Bertens, dosen filsafat pada sekolah tinggi driyarkara (jakarta) dan fakultas psikologi universitas indonesia menggambarkan perkembangan pemikiran dan gerakan psikoanalisa. kekhususan dari dua karangan terpilih ini adalah bahwa Freud memperkenalkan psikoanalisa kepada pembaca awam secara ringkas tetapi mengenai intisarinya.

---

buku ini adalah pengantar kepada studi Freud sendiri tentang psikoanalisa.

---

Psychopathology of Everyday Life (Sigmund Freud)



judul: The Psychopathology of Everyday Life | Sigmund Freud
penerbit: Penguin Books | Middlesex, England | 1976
tebal buku: 384 halaman.

---

The Psychopathology of Everyday Life has possibly done more than any other book to popularize psychology. Freud wrote it deliberately for the ordinary reader at the turn of the century and, as fresh editions appeared, constantly added new illustrations and anecdotes without changing his basic theories. Though hardly any of his work has been so frequently printed and so widely read, it is a curious fact that this translation, made by Alan Tyson, contains the first full English text of Freud's book in its final and greatly expanded form.

Here, with brief examples that are endlessly intriguing, we have the simple but convincing explanations of things that are familiar to everybody: the sudden forgetting of proper names, of sets of words, impressions and intentions; childhood and 'screen' memories; bungled actions and other errors; and all those little, significant mistakes of tongue and pen that have to be called 'Freudian slips'.

---

pada awalnya Freud mendapat banyak kritik sehubungan dengan metodenya yang dikenal dengan 'Psikoanalisa Freud', terutama karena pandangannya bahwa represi atau stress yang dialami seseorang adalah karena tekanan yang bersifat seksual yang ia dapatkan sejak masa kanak-kanak, sanggahan atau kritik atas Freud adalah bahwa tidak benar anak-anak memiliki tekanan semacam itu karena hal yang bersifat seksual yang mampu memberikan efek represi hanya didapatkan sejak seseorang itu menginjak usia dewasa atau remaja.

nama Freud sendiri seringkali dikaitkan secara serta merta terhadap bidang psikoanalisa, tetapi Freud menyanggahnya, karena sebelum dirinya ia mengetahui bahwa seorang dokter telah melakukan penelitian permulaan yang kemudian memperkenalkan Freud pada bidang analisa psikologis.

dokter yang menerapkan metode ini sebelum Freud adalah seorang dokter yang juga warga Wina, Dr. Josef Breuer. saat Breuer melakukannya Freud mengatakan bahwa dirinya saat itu masih di bangku kuliah dan sedang mempersiapkan ujian terakhirnya. penjelasan tentang ini dapat anda baca pada review tentang buku Freud yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yaitu buku 'Memperkenalkan Psikoanalisa' (Lima Ceramah), berisikan lima ceramah yang disampaikan oleh Freud dalam berbagai forum untuk mempromosikan psikoanalisa.

secara istimewa buku psychopathology ini menjelaskan tentang berbagai bentuk 'slips' tentang berbagai hal-hal sederhana dalam kehidupan, slips tersebut menunjukkan adanya pengaruh tekanan psikis dalam diri seseorang.

memang secara detail bisa dikatakan bahwa apa yang dilakukan psikoanalisa adalah bertujuan untuk secara perlahan dan teliti mengorek masalah kejiwaan seseorang secara mendalam, dan merunutnya hingga ke masa lalu, bahkan sampai ke masa kanak-kanak. sebagaimana Breuer menemukan bahwa seorang gadis, pasien yang ia tangani, sebagaimana disimak oleh Freud, mengalami tekanan karena kecintaannya pada ayahnya. pada masa kritis ayahnya, si gadis mendampingi dan merawat ayahnya, tetapi itu terpaksa ia hentikan ketika ia jatuh sakit. hal inilah yang menjadi sebuah tekanan psikis yang ia bawa hingga usia dewasa. dalam kasus ini si pasien secara represi mengalami tekanan yang mengakibatkan hysteria.

slips yang banyak diurai dalam buku ini cukup menarik. bagaimana banyak kesalahan yang muncul pada keseharian seseorang dikarenakan ia menahan represi kejiwaan, lalu berusaha untuk membuat seolah-olah ia bisa mengatasinya, memanipulasi. kenyataannya itu justru menumpuk represi yang ada, dan demikianlah sesungguhnya tekanan psikis bisa muncul secara berlebihan saat orang menipu dirinya seakan dia tak memiliki masalah. dengan metode Freud, kita bisa berusaha memahami dan mengurainya, lalu mereduksi tekanan itu.

---

daftar isi dari buku ini:

[+] The Forgetting of Proper Names

[+] The Forgetting of Foreign Words

[+] The Forgetting of Names and Sets of Words

[+] Childhood Memories and Screen Memories

[+] Slips of the Tongue

[+] Misreading and Slips of the Pen

[+] The Forgetting of Impressions and Intentions

[+] Bungled Actions

[+] Symptomatic and Chance Actions

[+] Errors

[+] Combined Parapraxes

[+] Determinism, Belief in Chance and Superstition

--- Some Points of View

---

kamus filsafat (dictionary of philosophy)



the space given is always in proportion to the philosophical and historical importance of the subject and research is made easy by bibliography and quotations.

judul buku: Dictionary of Philosophy
penerbit: littlefield, adams & co | Ames, Iowa | 1956
tebal buku: viii+344 halaman

ini adalah kamus filsafat, meliputi di dalamnya adalah berbagai sejarah singkat istilah, konsep pemikiran, hingga tentang tokoh filsafat secara ringkas dan padat.
buku ini, sebagaimana layaknya kamus, disusun menurut abjad, dan tentang pembagian waktu kuno - pertengah - modern tidaklah dipilah berdasarkan urutan, melainkan semuanya dicampur, seperti es campur, lebih nikmat untuk melompat-lompat dari gagasan-ke-gagasan, dari filosof-ke-filosof. penyusunnya tidak seorang diri, tetapi disusun oleh beberapa kontributor yang mapan dalam bidang filsafat.
dikoordinatori oleh dagobert d. runes, yang mengedit sumbangan tulisan dalam tiap input data di kamus ini, yang terdiri dari 72 authorities.
sangat bermanfaat untuk mempelajari filsafat, apalagi saya yang masih awam ini :).

nb: saya nemu waktu jalan-jalan di pasar johar, semarang.

GORAZDE: zona aman (perang bosnia timur 92-95)



ini adalah sebuah novel grafis karya joe sacco, seorang wartawan perang yang sekaligus dengan kemampuan narasi khas novel plus kemahiran berkomik, menceritakan kembali pengalamannya selama berada di bosnia pada masa perang saudara (saya tidak yakin apa bisa dikatakan perang saudara).
pertempuran yang muncul dan dituturkan di sini adalah karena adanya kekacauan otoritas kekuasaan pasca meninggalnya josip broz tito, seorang tokoh yang terkenal sebagai pemersatu negara kesatuan yugoslavia.
dengan penuturan yang hangat dan seperti umumnya novel grafis non-fiksi yang tersusun dalam narasi rapi. 'gorazde' mampu menjelaskan kepada kita bagaimana pertempuran itu berawal dari cerita masyarakat yang mengalaminya. dari ambisi para serbia untuk mendominasi dan mengontrol sepenuhnya kedaulatan seluruh bagian negara dari yugoslavia, dimulai dari perseturuan politik dan kemudian berlanjut kepada pengendalian masa sepenuhnya.
saat malam pertama tiba, mereka yang bosnian sudah merasa adanya suasana mencekam, tetangga-tetangga serbia mereka mulai berpindah dari rumah mereka ke wilayah serbia secara diam-diam, dan ada juga yang dengan terang-terangan sambil mengingatkan kerabat bosnia mereka untuk segera mengungsi. perasaan tentang adanya pembantaian etnis mulai tercium, lalu semakin nyata dan pekat saja.
bagaimana si guide dari joe sacco menceritakan cerita-cerita orang yang jadi saksi mata kejadian-kejadian pembantaian. secara sadis bisa dituturkan juga oleh sacco, meski cukup seram dengan grafisnya yang sederhana. kita tetap bisa memahami cerita mencekamnya, dari awal hingga akhir.

Krisis Legitimasi (Jurgen Habermas)



Judul Buku: Krisis Legitimasi
Penerbit: Qalam, Yogyakarta, 2004
Tebal: x + 380 halaman

Dalam buku ini Habermas menegaskan bahwa analisis Marxis tradisional terhadap kecenderungan krisis dalam sistem kapitalis sudah kuno dengan relatif suksesnya kompromi negara kemakmuran (walfare state). Sebagai gantinya dia menegaskan bahwa krisis yang terjadi dalam ranah ekonomi akan beralih, melalui tindakan (kebijakan) negara, ke ranah budaya. Pada gilirannya krisis ini akan mengancam integrasi sosial, merusak berbagai resource yang dibutuhkan negara demi berlanjutnya pengelolaan sektor ekonomi yang sedang berjalan. Lebih khusus lagi, krisis itu kemungkinan besar akan mengakibatkan hilangnya legitimasi lembaga pemerintahan.

Meskipun tesis ini tidak sepenuhnya baru, namun analisis yang ditawarkan Habermas menjanjikan sebuah formulasi yang lebih akurat tentang mekanisme yang melahirkan efek samping yang tidak dikehendaki ini. Habermas bagaimanapun hanya memposisikan diskusinya dalam Legitimation Crisis sebagai serangkaian usulan programatis [Joseph Heath].

Habermas menyampaikan dalam penjelasan awal Krisis Legitimasi ini. Konsep krisis yang kerap digunakan dalam ilmu-ilmu sosial dewasa ini adalah konsep krisis yang berparadigma sistemik-teoretis. Menurut pendekatan paradigma ini, krisis muncul ketika suatu struktur sistem sosial hanya mampu membuka sedikit sekali kemungkinan pemecahan masalah daripada kepentingan untuk menjaga sistem itu tetap eksis. Berdasarkan pengertian ini, krisis lebih dipahami sebagai gangguan terus-menerus yang hendak menderai-beraikan kesatuan sistem [h.92].

Keberatan yang muncul terhadap konsep sosial-ilmiah semacam ini adalah bahwa is tidak bisa menunjukkan penyebab-penyebab internal yang berasal dari kelebihan-beban yang dirasakan secara "sistematik" yang melemahkan kemampuan dalam melakukan pengendalian atas suatu sistem. Keberatan yang lain adalah bahwa pendekatan semacam ini sering mengalami kebuntuan "struktural" dalam upaya pengendalian masalah dan gangguan yang dihadapinya.

Selanjutnya Habermas memberikan pandangan yang berbeda yang mampu menggiring gagasan untuk menyelesaikan masalah krisis sistematik semacam itu. Habermas memandang krisis yang terjadi dalam sistem-sistem sosial sejatinya bukanlah akibat dari perubahan-perubahan aksidental lingkungan, melainkan lebih merupakan akibat dari tuntutan-tuntutan objektif sistem (system-imperative) yang inheren secara struktural dan yang secara hierarkis tidak dapat didamaikan, apalagi disatukan. Inilah yang dikatakan kontradiksi-kontradiksi yang inheren secara struktural. Untuk dapat mengidentifikasinya harus ditentukan terlebih dulu struktur-struktur esensial mana saja yang dianggap penting bagi eksistensi dan kontinuitas sistem tersebut di masa depan. Setelah struktur-struktur esensial itu dapat ditentukan, maka semua struktur tersebut harus segera dipisahkan dari unsur-unsur lain dalam sistem tersebut. Sebab, jika tidak, sistem tersebut akan berubah, walaupun identitas sistem tidak akan hilang. Karena itu, salah satu kesulitan yang muncul adalah bagaimana menentukan dengan tegas batasan dan keunggulan dari sistem-sistem sosial ini dalam bahasa teori sistem, karena hanya bahasa teori sistem inilah yang dapat membangkitkan keraguan dasariah atas manfaat dari konsep tentang krisis sosial yang sistematik-teoritis.

Susunan isi buku ini adalah sebagai berikut:

[+] Konsep Sosial-Ilmiah Krisis
  • Sistem dan Dunia-Kehidupan
  • Unsur-unsur Pokok Sistem Sosial
  • Gambaran Prinsip Organisasi Sosial
  • Krisis Sistem dalam Kapitalis-Liberal
[+] Kecenderungan Krisis dalam Kapitalisme Lanjut
  • Deskripsi Model dalam Kapitalisme Lanjut
  • Beberapa Masalah Akibat Pertumbuhan Kapitalisme-Lanjut
  • Klasifikasi Kemungkinan Kecenderungan Krisis
  • Teorema Krisis Ekonomi
  • Teorema Krisis Rasionalitas
  • Teorema Krisis Legitimasi
  • Teorema Krisis Motovasi
  • Ikhtisar Singkat
[+] Logika Masalah Legitimasi
  • Konsep Legitimasi Max Weber
  • Hubungan Persoalan Praktis dengan Kebenaran
  • Model Penekanan Kepentingan Umum
  • Akhir Individual?
  • Kompleksitas dan Demokrasi
  • Keberpihakan pada Rasio

Ruang Publik (Jurgen Habermas)



Judul Buku: Ruang Publik
Penerbit: Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2010
Tebal Buku: xviii + 358 halaman

Buku "Ruang Publik" karya Jurgen Habermas ini merupakan kajian tentang kategori masyarakat borjuis, sesuai dengan subjudul di covernya.

[secara lebih detail baca pula ringkasan ulasan tentang Opini Publik-nya Habermas]

Habermas dalam buku ini menyelidiki akar sosiologis dan historis terbentuknya apa yang saat ini disebut dengan Offentlicheit atau ruang publik. Akar-akar tersebut dia lacak jauh sampai ke sejarah Prancis di penghukung Abad Tengah saat para bangsawan dan tuan tanah serta para satria sudah mengadakan pertemuan-pertemuan yang jadi cikal bakal bagi apa yang disebut ruang publik. Namun yang paling mengesankan dari kajian Habermas ini adlah bahwa ruang publik sesungguhnya terbentuk dari kedai-kedai minum di Eropa abad Pencerahan, karena di tempat-tempat seperti inilah para saudagar dan kelas menengah lainnya membicarakan persoalan bisnis mereka yang lambat laun berubah menjadi pembicaraan tentang masalah-masalah kemasyarakatan yang lebih luas. Di titik ini kita akan bertemau dengan apa yang dalam karya-karya Habermas belakangan disebut kepentingan. Persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kepentingan mereka disebarluaskan melalui media cetak dengan cara-cara komunikasi yang belum ada sebelumnya. Anda dapat langsung menangkap bahwa gagasan dan teori Habermas tentang komunikasi sebenarnya berawal dari kajiannya tentang media massa dan pola komunikasi dalam rangka meneliti perubahan struktural ruang publik kelas borjuis di Eropa ini.

Ruang Publik yang diidealkan oleh Habermas kiranya adalah ruang dimana setiap masalah bisa dikomunikasikan tanpa kendala, bukan dimana segalanya boleh dilakukan begitu saja. komunikasi yang terbentuk adalah bentuk komunikasi demokratis, timbal-balik dan tiap-tiap pihak bisa menerimanya dengan baik tanpa dominasi.

Habermas dalam buku ini cukup telaten dalam memaparkan penjelasan tentang karakter masyarakat di ruang-ruang publik sejak masa pencerahan.

1984 (George Orwell)

...ini tentang 1984 [nineteen eighty-four]



"Newspeak, Doublethink, Big Brother, the Thought Police--George Orwell's Famous satire coined new and potent words of warning for us all.

In 1984 the world is divided into three parts, Oceania, Eastasia and Eurasia, all perpetually at war. In Oceania, the Party has created a totalitarian state that annihilates all opposition. In the forefront of the Party stands Big Brother, a figure of almost mythical power.

The story of Winston Smith's rebellion against the Party, of his hatred of Big Brother, and of the thoughtcrime which must result in his destruction was first published in 1949. Now in the eighties--our present and Orwell's brilliantly imagined future--his vision of brutalize and manipulated humanity is still gripping and still supremely relevant."

Itulah kutipan dari teks di cover luar-belakang dari novel 1984 karya George Orwell (nama asli: Eric Arthur Blair). Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1949, dan Orwell adalah lelaki kelahiran 1903 di India.

Tentang Orwell

Orwell adalah putra seorang Civil Service. Keluarganya pindah ke Inggris oada 1907 dan pada 1917 Orwell mulai masuk di Eton, di sanalah dia mulai bergabung dengan berbagai majalah kampus. Ia pergi pada tahun 1921 dan bergabung dengan Indian Imperial Police di Burma pada tahun berikutnya. Dia berhenti pada 1928 dengan kebenciannya pada imperialisme, sebagaimana ditunjukkan 'Burmese Days' (1934) novel pertamanya.

Setelah itu dia hidup beberapa tahun dalam kemiskinan, di masa-mas bersama gelandangan, pengalaman-pengalaman itu dituangkan dalam 'Down and Out in Paris and London (1933). Untuk sekali waktu dia bekerja sebagai guru sekolah tetapi karena lemahnya kesehatannya dia berhenti dari pekerjaan itu dan bekerja sebagai asisten paruh waktu di sebuah toko buku di Hampstead; kemudian dia mulai mampu memperoleh penghasilan dengan mereview novel-novel untuk New English Weekly, tempat yang ia pakai hingga 1940. Pada 1936 dia mengunjungi wilayah masyarakat yang tak memiliki pekerjaan di Lancashire dan Yorkshire dan 'The Road to Wigan Pier' (1937) adalah sebuah deskripsi yang kuat tentang kemiskinan yang ia lihat di sana. Pada akhir 1936 Orwell pergi ke Spanyol untuk berperang bagi Republican dan mengalami cedera;

1984 bercerita tentang
[sedang mengetik...]

Wednesday, July 20, 2011

Opini Publik Habermas

[+] Konsep Opini Publik Habermas

[+] Klarifikasi Sosiologis Opini publik a la Habermas

[+] Peran Opini Publik dalam negara Demokratis

[+] Fungsi Kritis Opini Publik terhadap sistem sosial: Konsep menuju Praxis

[+] Peran Opini publik dalam pembentukan hukum

Referensi:

  • RP = Ruang Publik. Jurgen Habermas, Ruang Publik, Kreasi Wacana: Yogyakarta, 2010. Judul asli: The Structural Transformation of Public Sphere (terjemahan Thomas McCarthy ke dalam bahasa Inggris)
  • TTK 1 = Teori Tindakan Komunikatif (buku satu): Rasio dan Rasionalisasi Masyarakat. Jurgen Habermas, Teori Tindakan Komunikatif (buku satu): Rasio dan Rasionalisasi Masyarakat, Kreasi Wacana: Yogyakarta, 2009. Judul asli: Theorie des Kommunikativen Handeln, Band I: Handlungsrationalitat und gesellschaftliche Rationalisierung.
  • TTK 2 = Teori Tindakan Komunikatif (buku dua): Kritik atas Rasio Fungsionalis. Jurgen Habermas, Teori Tindakan Komunikatif (buku dua): Kritik atas Rasio Fungsionalis, Kreasi Wacana: Yogyakarta, 2007. Judul asli: Theorie des Kommunikativen Handeln, Band II: Zur kritik der funktionalistischen Vernunft.
  • MMK = Menuju Masyarakat Komunikatif. F. Budi Hardiman, Menuju Masyarakat Komunikatif: Ilmu, Masyarakat, Politik dan Postmodernisme Menurut Jurgen Habermas, Kanisius: Yogyakarta, 2009.
  • DD = Demokrasi Deliberatif. F. Budi Hardiman, Demokrasi Deliberatif: Menimbang ‘Negara Hukum’ dan ‘Ruang Publik’ dalam Teori Diskursus Jurgen Habermas, Kanisius: Yogyakarta, 2009.

Konsep Opini Publik: Jurgen Habermas

Pembahasan tentang ‘Konsep Ruang Publik’ ini dibahas secara khusus di dalam satu bab terakhir dari Ruang Publik (RP), “Bab VII: Perihal Konsep Ruang Publik”. Habermas dalam pembukaan bab ini langsung mendistingsikan pembahasan dengan fokus pada peran “Opini Publik sebagai Fiksi Hukum Konstitusional –dan Likuidasi Sosial-Psikologis Konsep Opini Publik”. Pembahasan yang memperlihatkan sisi kritis sosial dan sekaligus upayanya untuk menunjukkan bahwa konsep kritis sosial semestinya dibawa menuju ke dalam bentuk praxis. Dan menurut Habermas, adalah hukum.

Sepanjang kajiannya tentang kategori masyarakat borjuis dalam bukunya ‘Ruang Publik’ tersebut, Habermas berusaha menjelaskan konstinuitas semangat pencerahan selepas Revolusi Perancis dalam konsistensinya tentang kajian masyarakat modern. Dan yang terlihat jelas adalah bagaimana ia menceritakan tentang proses pembauran kelas borjuis dengan warga terdidik yang memiliki sikap kritis terhadap kerajaan (Inggris) melalui kafe-kafe atau salon-salon. Melalui para kritikus sosial dengan latar belakang pendidikan yang baik inilah mereka yang proletar mendapatkan pembelaan haknya untuk bersuara melalui para terdidik ini, yang oleh Habermas lebih didefinisikan sebagai kelas menengah terdidik.

Habermas membedakan publisitas berkaitan dengan opini publik, atau dengan kata lain ‘publisitas manipulatif’ dengan ‘publisitas kritis’. Ia menjelaskan bahwa masing-masing memiliki tempatnya sendiri-sendiri di dalam konfigurasi sosial, walaupun konsekuensi fungsionalnya bersilangan satu sama lain. Kendati demikian, keduanya mengharapkan publik untuk bertindak dengan cara yang berbeda satu sama lain. Dengan menggunakan distingsi seperti telah diuraikan sebelumnya, bisa dikatakan bahwa salah satunya berpijak pada premis opini publik, sementrara yang lain pada premis nonpublik [RP; 328].

Meskipun di dalam kerangka hukum konstitusional dan ilmu politik, analisis mengenai norma-norma konstitusional yang berkenaan dangan realitas konstitusional mayoritas negara demokratis yang menjalankan hak-hak sosial secara terpaksa. Akan tetapi bagi sebagian negara-kesejahteraan sosial yang demokratis masih membutuhkan opini publik secara menyeluruh dengan pertimbangan, karena opini publik masih merupakan satu-satunya basis yang bisa diterima bagi legitimasi dominasi politis. Opini publik secara menyeluruh kemudian menjadi kebutuhan sebuah negara demokrasi modern untuk menerapkan konstitusi yang mengikat secara menyeluruh. Karena tanpa adanya kesadaran akan peran substitutif dari opini publik dan bergantung kepada suasana hati (mood) yang tidak tentu, maka jelaslah demokrasi modern akan kehilangan substansi kebenarannya [RP; 328-329].

Habermas memberikan gambaran situasi saat keadaan ruang publik yang ambruk dan kepercayaan naif terhadap ide nasionalisasi kekuasaan tidak dapat terlepas dari fakta itu. Maka Habermas menjelaskan bahwa, pada saat itulah jalan menuju pendefinisian konsep opini publik jadi terbentang jelas. Yang dijelaskan dalam dua jalan pendefinisian:

Jalan pertama, membawa kepada posisi liberalisme, yang di tengah-tengah ruang publik yang terpecah belah, ingin menyelamatkan komunikasi internal lingkaran para wakil rakyat yang mengkonstitusikan sebuah publik dan membentuk opini, yaitu kepada publik yang berdebat kritis di tengah-tengah publik yang hanya memberikan persetujuan. Di dalam proses ini kualifikasi yang dulunya milik masyarakat privat di ruang perniagaan dan kerja sosial sebagai kriteria sosial bagi keanggotaan di dalam publik, telah berubah menjadi kualitas perwakilan yang hirarkis dan otonom sehingga basis lama publisitas tidak lagi terpahami [RP: 330]. Habermas hendak menjelaskan, bahwa saat ada kekacauan opini di dalam publik, yang tidak lagi berbentuk opini-opini besar yang berdebat di ruang keterwakilan tidak lagi mudah dipahami dengan pengamatan. Kemudian dengan cara mengembalikan perdebatan itu kepada masyarakat dan memberikan kesempatan bagi opini publik untuk berjuang lebih keras dalam memulihkan kesadaran komunikatif. Sehingga hasil pasca-liberalisasi ini akan menjadi penyelamatan tindakan komunikasi dalam lingkaran wakil rakyat.

Akan tetapi liberalisasi ini tidak dapat mengembalikan keadaan atau pola publisitas sebagaimana bentuk awalnya dalam ruang publik. Karena liberalisasi ini pastilah akan mengambil langkahnya yang lebih efektif, yaitu untuk memperoleh otoritas kepatuhan lewat pandangan yang diadopsi hanya dari mereka yang “relatif cukup informatif, cerdas dan bermoral” [kutipan dari W.Hennis oleh Habermas]. Dan Habermas juga melihat indikasi tidak dapat dikajinya keterwakilan yang semacam ini pada kondisi-kondisi yang ada sekarang.

Selanjutnya jalan kedua. Jalan kedua mengarahkan kita kepada konsep opini publik yang mencabut kriteria material seperti rasionalitas dan perwakilan penuh dari pertimbangan yang matang dan membatasinya hanya kepada kriteria institusional saja. Opini publik semacam ini bisa eksis menjadi ‘publik’ hanya ketika diproses melalui partai. Habermas sependapat bahwa opini publik memang berkuasa tetapi tidak memerintah dan parlemen sebagai corongnya tidak secara tepat menjadi corongnya karena aktor-aktor yang bertikai adalah selalu partai, baik partai pemerintah maupun oposisi. Partai yang merangkul mayoritas dianggap mewakili opini publik [RP: 331]. Habermas menyimpulkan dari dua model tersebut, semakin organisasi independen dari pemobilisasian dan pengintegrasian opini masyarakat, semakin jauh dia dari peran politis dalam pembentukan konsensus opini publik dalam ruang demokrasi.

Dengan demikian, sebagai fiksi hukum konstitusional, opini publik tidak lagi diidentikkan dengan tingkah laku aktual publik. Namun begitu, kendati opini dilekatkan kepada lembaga-lembaga politik pun (yang diabstraksikan bersama-sama dengan tingkah laku publik) tidak juga menghilangkan karakter fiktifnya. Penelitian sosial empiris akan menemui jalan buntunya kaum positivis ketika hendak menyusun definisi ‘opini publik’ yang tepat. Mengapa? Karena penelitian tersebut akan mengabstraksikan definisi ‘opini publik’ dari aspek-aspek institusionalnya, padahal tindakan yang demikian akan segera melikuidasi karakter sosio-psikologisnya [RP: 332]. Optimisme Habermas dalam upayanya membawa modernisme dan semangat pencerahan pasca-revolusi perancis, salah satunya dengan mengembangkan kerangka kritisnya yang berkembang dari Kant, Hegel, Marx, dan Freud sebagai basis pemikiran kritis Frankfurtnya. Yang kemudian ia pertemukan dengan pemikiran-pemikiran politik serta sosial terkini terutama dalam membahas secara khusus mengenai opini publik.

Mula-mula ‘publik’, memang subjek opini publik, dipersamakan dengan ‘massa’, lalu dengan ‘kelompok’, kemudian sebagai substratum sosial-psikologis bagi proses komunikasi dan interaksi antara dua individu atau lebih. ‘kelompok’ diabstraksikan dari serangkaian kondisi sosial dan historis, serta alat-alat institusional, dan tentunya dari jaringan-jaringan fungsi sosial yang dulu pernah jadi penentu strata masyarakat privat yang bergabung membentuk publik yang berdebat kritis di wilayah politis [RP: 334].

Opini bukan hanya mencakup kebiasaan yang terekspresikan di dalam konsep-konsep tertentu –misalnya opini yang berbentuk agama, kebiasaan, adat istiadat, atau hanya sekadar ‘prasangka’, yang untuk menentang hal-hal inilah, opini publik dimunculkan sebagai standar kritik abad ke-18—namun juga segala mode tingkah laku [RP: 334].

Sementara itu, Lazarsfeld sudah menegaskan bahwa terlalu tinggi harga yang harus dibayar bagi konsep sosio-psikologis opini publik apabila semua elemen sosiologis dan kesipilannya (politological) yang esensial harus dihilangkan. Namun tahapan yang lebih signifikan menuju sintesis antara konsep opini publik klasik dengan representasi sosial-psikologisnya hanya bisa tercapai dengan menyorot lagi soal relasi penuh-paksaan dengan lembaga-lembaga politik berkuasa [RP: 335].

Sama seperti konsep opini publik yang berorientasi pada lembaga pemegang kekuasaan politis yang tidak pernah sampai menyentuh dimensi proses komunikasi informal, demikian pula konsep opini publik yang basis sosiopsikologisnya telah direduksi menjadi hubungan-kelompok tidak akan lagi berkaitan dengan dimensi tersebut, walaupun dulu pernah menjadi kategori untuk mengembangkan fungsi strateginya. Pereduksian ini terus bertahan sampai sekarang, membuat kehidupan yang terasingkan (recluse) tidak lagi dianggap serius bagi para sosiolog: persisnya dia telah berlaku sebagai fiksi hukum konstitusional [RP: 336].

Dengan demikian hubungannya dengan kekuasaan hanyalah tambahan bagi latar belakangnya saja. Keinginan-keinginan ‘privat’ untuk memiliki mobil dan pendingin ruangan, misalnya, dimasukkan ke bawah kategori ‘opini publik’ karena banyak berkaitan dengan tingkah laku kelompok tertentu, seolah-olah keinginan ini relevan dengan fungsi pemerintahan dan administratif negara-kesejahteraan sosial [RP: 337].

Klarifikasi Sosiologis Opini publik a la Habermas

Bahan-bahan material penelitian opini –yaitu semua jenis opini yang digunakan oleh segala jenis kelompok populasi—belum dapat dikukuhkan sebagai opini publik lantaran masih menjadi objek pertimbangan, putusan dan tindakan-tindakan politis [RP: 337].

Kriteria untuk mengukur opini secara empiris menurut tingkat kepublikannya dikembangkan berdasarkan evolusi negara dan masyarakat sendiri. Sesungguhnya, spesifikasi empiris opini publik semacam itu dewasa ini telah menjadi pengertian yang paling terpercaya untuk memperoleh pertanyaan yang valid dan adil mengenai tingkatan integrasi demokratis yang menjadi ciri realitas konstitusional [RP: 338].

Opini-opini informal berbeda dalam tingkatan-tingkatan kewajiban mereka. Pada tingkatan pertama, semakin rendah tataran wilayah komunikasi direpresentasikan oleh verbalisasi hal-hal yang secara kultural diterima begitu saja (taken for granted) tanpa didiskusikan, semakin tinggi perlawanan yang dihasilkan oleh proses akulturasi tersebut, yang biasa tidak dikontrol bahkan oleh refleksi individu itu sendiri –seperti contoh, tingkah laku terhadap hukuman mati atau moralitas seksual. Pada tingkatan kedua, pengalaman-pengalaman biografis mendasar yang jarang didiskusikan mulai diverbalisasikan, sehingga akibat-akibat tak tertahankan dari kejutan sosialisasi sekali lagi menjadi subreflektif –seperti contohnya, sikap-sikap terhadap perang dan damai atau hasrat-hasrat tertentu akan rasa aman. Dan akhirnya, pada tataran ketiga, kita menemukan bahwa hal-hal yang sering didiskusikan muncul sebagai sesuatu yang jelas dengan sendirinya bagi industri budaya, yang hasilnya adalah serbuan pemberitaan dan manipulasi propaganda tanpa henti oleh media terhadap konsumen, dan yang jadi target utamanya adalah waktu luang mereka [RP: 338-339].

Untuk melawan sekaligus mengatasi wilayah komunikatif opini nonpublik ini, terciptalah ruang sirkulasi opini kuasi-publik. Opini-opini formal di ruang ini dilahirkan oleh institusi-institusi spesifik, yang resmi atau semi-resmi dipatuhi sebagai pengumuman, proklamasi, deklarasi dan pernyataan [RP: 341].

Kendati opini-opini kuasi-resmi ini bisa ditunjukkan kepada publik luas, tetap saja mereka tidak memenuhi persyaratan proses publik bagi perdebatan rasional kritis menurut model liberal. Karena sahih secara institusional, opini kuasi-resmi selalu diistimewakan sehingga sama sekali tidak berimbang dengan masa ‘publik- tak-terorganisasi [RP: 341].

Kita juga dapat melihat bahwa wahana pewartaan ini, bila dikelola dengan baik, bisa memengaruhi opini-opini formal yang ada –namun sebagai sesuatu yang ‘termanifestasikan secara publik’, publisitas yang ini harus dibedakan dari opini ‘kuasi-publik’ [RP: 341].

Lantaran terperangkan di dalam pusaran publisitas yang dipanggungkan bagi tontonan atau manipulasi, maka klaim yang dilontarkan publik masyarakat privat tak-terorganisasi sesungguhnya dibentuk bukan melalui komunikasi publik melainkan lewat komunikasi opini-opini yang termanifestasikan secara publik [RP: 342].

Akan tetapi, opini baru bisa menjadi publik dalam maknanya yang ketat apabila dilahirkan di suatu tataran di mana dua wilayah komunikasi di atas dijembatani oleh pihak ketiga, yaitu publisitas kritis [RP: 342].

Bagi teori sosiologi mengenai opini publik, kecenderungan tersebut amat penting karena menyediakan kriteria bagi sebuah dimensi yang sanggup mengonstruksikan opini publik di bawah kondisi-kondisi negara demokratis raksasa yang menjalankan hak-hak sosial [RP: 342].

Derajat bagi sebuah opini boleh disebut sebagai publik juga bisa diukur lewat standar berikut: seberapa besar dia muncul dari ruang publik intraorganisasional yang dibentuk oleh publik anggota-anggota organisasi dan seberapa banyak rung publik intraorganisasional berkomunikasi dengan ruang publik eksternal yang terbentuk lewat pertukaran pewartaan, yaitu via media massa, antara organisasi kemasyarakatan dan institusi-institusi negara [RP: 343].

C.W. Mills mendefinisikan opini publik: “Di dalam sebuah publik, seperti yang kita pahami dengan istilah ini, (1) ‘opini publik’ adalah opini yang banyak diungkapkan oleh masyarakat sekaligus yang banyak diterima oleh masyarakat sendiri. (2) Komunikasi publik begitu tertata, sampai-sampai jawaban-balik terhadap opini apa pun yang diungkapkan di dalam publik bisa dilakukan dengan cepat dan efektif. Opini yang dibentuk oleh diskusi semacam itu (3) sudah memiliki landasannya di dalam tindakan efektif, yang bila diperlukan dapat menentang sistem otoritas yang ada. Dan akhirnya, (4) institusi-institusi otoritatif tidak menginfiltrasi publik, sehingga publik kurang lebih menjadi otonom dalam mengoperasikan opini mereka [RP: 343].

Empat kriteria komunikasi massa ini baru terpenuhi ketika wilayah informal kemunikasi dikaitkan dengan wilayah formalnya melalui saluran-saluran publisitas yang dipentaskan demi tujuan manipulasi atau tontonan semata. Kalau begitu, dengan “penyebaran budaya industri yang tak terelakkan” ini, opini nonpublik diintegrasikan lewat opini yang “termanifestasikan secara publik” menjadi sistem seperti yang kita miliki sekarang. Di dalam sistem yang seperti ini, opini nonpublik tidak memiliki otonomi apa pun [RP: 344].

Karena seperti di dalam kasus perubahan struktural ruang publik borjuis, kita dapat mengkaji pada tataran mana dan bagaimana cara ruang publik memperoleh fungsi yang tepat untuk menentukan apakah implementasi dominasi dan kekuasaan muncul sebagai konstanta yang negatif dari sejarah, ataukah sebagai kategori historis itu sendiri: ini semua tetap terbuka bagi perubahan substantif [RP: 345].

Peran Opini Publik dalam negara Demokratis

Demokrasi dan kekuatannya dalam menentukan keputusan politis bagi pusat kekuasaan masih tetap terikat oleh adanya diskursus praktis yang dapat menjadi legitimasi publik terhadap kebijakan penguasa.

Untuk mewujudkan himbauan teori klasik tentang demokrasi itu, Habermas mencoba menghubungkan pendiriannya dengan keadaan-keadaan empiris masyarakat-masyarakat dewasa ini. Struktur-struktur komunikasi yang terkandung di dalam konstitusi negara hukum demokratis dimengerti oleh Habermas sebagai sebuah proyek yang belum selesai namun dapat diwujudkan. Akan tetapi agar keadaan-keadaan empiris masyarakat-masyarakat kompleks itu dapat didekatkan pada tujuan proyek itu haruslah ada sebuah model yang sesuai untuk demokrasi, sebuah model yang secara sosiologis dapat menjelaskan dinamika komunikasi politis di dalam negara hukum demokratis yang ada. Model yang sesuai dengan konsep proseduralistis tentang negara hukum itu adalah model demokrasi deliberatif (deliberative Demokratie). Model deliberatif ini menekankan pentingnya prosedur komunikasi untuk meraih legitimasi hukum di dalam sebuah proses pertukaran yang dinamis antara sistem politik dan ruang publik yang dimobilisasi secara kultural. Dalam model demokrasi deliberatif ini Habermas mencoba untuk menghubungkan tesis hukumnya, yakni tesis tentang fungsi hukum sebagai medium integrasi sosial, dengan sebuah teori sosiologis tentang demokrasi. Hasilnya menarik: konsep-konsep dasarnya seperti konsep tindakan komunikatif, Lebenswelt (dunia-kehidupan) dan diskursus praktis sekarang beroperasi di dalam kerangka sebuah teori demokrasi [DD: 126-127].

Sebagai konsep dalam teori diskursus, istilah ‘demokrasi deliberatif’ sudah tersirat di dalam apa yang telah kita bicarakan di atas sebagai diskursus praktis, formasi opini dan aspirasi politis (politische Meinungs-und Willenbildung), proseduralisme atau kedaulatan rakyat terhadap prosedur (Volksouveränität als Verfahren). Akan tetapi kali ini kita mengarahkan pandangan kita tidak lagi pada ide negara hukum, melainkan lebih pada proses legitimasi itu sendiri. Teori demokrasi deliberatif tidak memusatkan diri pada penyusunan daftar aturan-aturan tertentu yang menunjukkan apa yang harus dilakukan oleh warganegara, melainkan pada prosedur untuk menghasilkan peraturan-peraturan itu [DD: 128].

Dengan kata lain model demokrasi deliberatif meminati persoalan kesahihan keputusan-keputusan kolektif itu. Pada hemat saya model ini dapat secara memadai menjelaskan arti kontrol demokratis melalui opini publik. Opini-opini publik bisa jadi merupakan opini-opini mayoritas yang mengklaim legitimasi mereka. Opini-opini itu juga dapat memiliki suatu bentuk yang logis dan koheren yang dianggap sahih secara universal dan rasional. Akan tetapi opini-opini mayoritas tidak niscaya secara identik dengan opini-opini yang benar. Bagi model demokrasi deliberatif adalah jauh lebih penting memastikan dengan cara manakah opini-opini mayoritas itu terbentuk sedemikian rupa sehingga seluruh warganegara dapat mematuhi opini-opini itu [DD: 129].

Peran Opini publik dalam pembentukan hukum

Ada beberapa aspek yang menajamkan pendirian politik deliberatif Habermas:

Pertama, seperti pemulis-penulis lainnya, Habermas juga mementingkan aturan-aturan main demokratis, jaminan hak-hak kebebasan, adanya partai-partai yang berkompetisi, pemilihan umum yang fair, asas mayoritas, debat publik dst. Menurutnya bila demokrasi deliberatif juga menekankan pentingnya dan arti normatif prosedur demokratis, ia tidak boleh merasa cukup dengan aturan-aturan empiris seperti itu. Hal ini berarti bahwa kondisi-kondisi komunikasi yang memungkinkan konsensus intersubjektif di antara para warganegara selalu saja tetap bersifat kontrafaktual di harapan jalannya komunikasi faktual. Akibatnya sebuah tatanan kekuasaan tidak dapat dilegitimasikan atas dasar berjalannya komunikasi faktual [DD: 130-131].

Kedua, seperti para penulis lain, Habermas mencoba mengembangkan sebuah model demokrasi yang peka terhadap konteks, sebuah model yang memperhitungkan perubahan-perubahan yang telah terjadi di dalam masyarakat-masyarakat kompleks yang terglobalisasi dewasa ini. Habermas justru berupaya untuk menunjukkan bahwa demokratisasi tidak dapat ditanamkan dari luar ke dalam masyarakat-masyarakat kompleks. Demokratisasi berkembang dari dalam masyarakat-masyarakat itu sendiri dan didorong oleh sistem politik yang sudah ada di sana. Ia yakin bahwa rasio komunikatif yang menggerakkan proses-proses demokrasi sudah tersedia di dalam praktik-praktik negara hukum dan institusi-institusi ruang publik yang telah ada. Menurut pendapat saya hal yang sangat penting bagi model demokrasi deliberatif adalah bagaimana potensi-potensi rasionalisasi praktik-praktik negara hukum modern dapat diaktualisasikan [DD: 131].

Ketiga, seperti model-model deliberatif lain, model Habermas juga beroperasi dengan ciri-ciri ideal deliberasi, seperti pentingnya bentuk argumentasi, inklusivitas para peserta, kebebasan dari paksaan, pencapaian konsensus dst. Model Habermas menekankan apa yang disebut “proses deliberasi politik jalur ganda” yang di dalamnya terjadi pembagian kerja antara sistem politik dan ruang publik [DD: 132].

Fungsi Kritis Opini Publik terhadap sistem sosial: Konsep menuju Praxis

Dalam kesimpulan sementaranya: “Tindakan Sosial, Tindakan-Bertujuan, dan Komunikasi” dalam TTK 1 [hal. 335], Habermas ingin menjawab pertanyaan Weber dalam kajian sosiologi agama yang memunculkan pertanyaan empiris yang cukup panjang. “Mengapa diferensiasi tiga kompleks rasionalitas setelah terjadinya disintegrasi pandangan dunia tradisional belum juga menubuh dalam bentuk institusi dalam tatanan kehidupan masyarakat modern, mengapa ketiganya tidak menentukan praktik komunikatif dalam kehidupan sehari-hari pada tingkat yang sama” [TTK1: 335] (tetapi, Habermas tidak meletakkan tanda tanya di akhir kalimat).

Namun, melalui asumsi tindakan-teoretis dasar ini, Weber mencurigai pertanyaan ini sedemikian rupa sehingga proses rasionalisasi masyarakat hanya dapat dilihat dari sudut pandang rasionalitas bertujuan. Oleh karena itulah saya ingin mendiskusikan kendala-kendala konseptual dalam teori tindakan dan menggunakan kritik ini sebagai pijakan awal untuk analisis lebih lanjut atas konsep tindakan komunikatif [TTK1: 335].

Karena Weber berangkat dari model tindakan yang dikonsepsikan secara monologis, maka konsep “tindakan sosial” tidak dapat diperkenalkan dengan cara menjelaskan konsep makna. Oleh karena itu dia harus memperluas model tindakan bertujuan dengan dua spesifikasi sehingga syarat bagi interaksi sosial dapat terpenuhi: (a) suatu orientasi ke arah perilaku subjek lain yang bertindak, dan (b) suatu relasi refleksi orientasi tindakan resiprokal dari beberapa subjek yang bertindak [TTK1: 344].

Untuk membangun sebuah teori tindakan, ada hal lain yang lebih penting. Haruskah Weber memperkenalkan aspek rasionalitas tindakan berdasarkan model tindakan teleologis, ataukah justru konsep tindakan sosial yang harus dijadikan dasar rasionalitas tersebut? Untuk kasus yang pertama, Weber harus membatasi dirinya pada aspek rasionalitas yang terikat dengan model aktivitas-aktivitas, yaitu dengan rasionalitas makna dan tujuan. Sedangkan untuk kasus kedua, pertanyaan yang muncul adalah apakah relasi-relasi refleksi orientasi tindakan itu berbeda-beda dan oleh karena itu menjadi aspek tambahan bagi dasar tindakan agar bisa dirasionalisasikan [TTK1: 345].

Weber tidak mampu membuat tipologi tindakan yang tidak resmi yang dikemukakannya ini bisa bermanfaat bagi problematika rasionalisasi masyarakat. Versi yang resmi, bagaimanapun, dipahami secara sempit sehingga di dalam kerangka kerja tindakan sosialnya hanya dapat dijajagi berdasarkan aspek rasionalitas-bertujuan. Dari perspektif konseptual ini rasionalitas sistem tindakan harus dibatasi pada pembentukan dan perseberan tipe-tipe tindakan rasional-bertujuan yang spesifik bagi berbagai subsistem. Jika rasionalisasi masyarakat akan diteliti secara menyeluruh, maka sangat diperlukan landasan tindakan teoretis [TTK1: 349].

Dalam kerangka teori rasionalisasi, proses pembentukan diri masyarakat berarti proses menuju “rasionalitas”, atau proses menuju otonomi dan kedewasaan (Mundigkeit). Oleh karena itu, di samping teori materialisme-sejarah Marxis, teori Rasionalisasi Weber juga mendapat kedudukan penting dalam proyek Teori Kritis untuk menyusun sebuah teori perkembangan masyarakat [MMK: 118].

Habermas lebih rinci lagi mengkritik modernisasi kapitalis yang memutlakkan rasionalitas kognitif instrumental dalam bentuk kekuasaan politis dan kemakmuran ekonomis yang berpadu dengan hedonisme dan konsumerisme yang menyebabkan erosi makna, karena modernisasi tersebut menindas bentuk rasionalitas lain, yaitu rasionalitas praktis-moral. Masalahnya adalah, dalam masyarakat kapitalis, ketiga bentuk rasionalitas itu tidak dikembangkan secara seimbang [MMK: 118].

Di sini kita melihat bahwa Habermas mengambil sikap yang berbeda dari rekan-rekannya dari Mazhab Frankfurt. Bahkan ia juga tidak sepenuhnya setuju dengan Weber. Ilmu dan teknologi yang dicurigai sebagai bentuk penindasan oleh para pendahulunya justru dilihat sebagai faktor penting yang mengemansipasikan masyarakat dari kendala alamiah dan proses obyektif, bahkan teknologi sosial sekalipun dipandang sebagai sebuah kemungkinan untuk perkembangan masyarakat. Tapi Habermas memberi peringatan bahwa semua ini harus dilancarkan secara seimbang dan utuh dengan pengembangan di bidang hukum, moralitas, erotisme, dan seni [MMK: 118-119].

Hukum Penalaran dan Ilmu Hukum

  Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut ultricies efficitur nunc id accumsan. Aliquam quis facilisis felis. Integer...