Showing posts with label cyberlife. Show all posts
Showing posts with label cyberlife. Show all posts

Wednesday, December 5, 2012

Facebook dan Google: Ancaman Demokrasi


The Register --- Julian Assange melihat bahwa demokrasi tengah dalam keadaan bahaya dengan adanya monitoring pemerintah atas internet, dan Facebook maupun Google membantu proses pemantauan itu.
Assange menjelaskan keyakinannya bahwa bangsa-bangsa kini mendapat pengawasan dalam skala yang sangat besar, karena “lebih menghemat biaya untuk menangkap tiap orang dari pada mengambil beberapa orang untuk memata-matai.”

Monday, March 12, 2012

GOOGLE DORKS, BEBERAPA DARI DORKS

Google memberikan service yang advance di mesin pencarinya. Dengan beberapa kode-kode query memiliki makna tertentu bagi google, hal inilah yang bisa kita manfaatkan lebih lanjut, membantu kita menemukan apa yang "benar-benar" kita cari :)

Saya rasa dorks adalah mulanya berupa beberapa modifikassi kreatif para pencari, memang kreatifitas dalam apa pun perlu kita galakkan untuk Indonesia yang lebih baik sothara-sothara...

Bagaimanapun, mereka yang menemukan caranya sendiri adalah lebih unggul dari yang sekedar mempelajari di kelas-kelas dan dari blog orang lain. Maka dari itu, mari kita cari cara untuk memberi banyak jalan kebaikan bagi yang lain

cache: 

Jika Anda menyertakan kata-kata lain dalam query [cache:   ], Google akan menandai kata-kata tersebut dalam dokumen yang ter-cache-kan. Contoh, [cache:www.google.com web] akan menunjukkan konten yang ter-cache dengan kata "web" yang tertandai.Fungsi ini juga dapat diakses dengan mengklik pada kata "cached" yang berupa link di hasil pencarian.

Query [cache: ] akan memunculkan versi dari halaman web yang didapatkan google dalam cache-nya. [cache:www.google.com] menunjukkan cache Google dari homepage Google. 

link: 
Query [link: ] akan mendaftar web yang ditemukan dengan spesifikasi yang kita buat. Misal, [link:www.google.com] mendaftar halaman web dengan link yang merujuk kepada halaman muka google. Bisa jadi tidak ada space antara 
"link:" dengan url web page-nya.

Fungsi ini juga dapat diakses dari format Advanced Search page, dengan advanced search di halaman google Search > Links
 
related: 
Query [related: ] akan mendaftar web pages yang "serupa" dengan web tertentu. Misal [related:www.google.com] akan mendaftar web yang serupa/berrelasi dengan Google homepage. bisa saja tidak terdapat space antara "related:" dengan url yang dihasilkan.

Fungsi ini juga dapat diakses dengan klik pada "Similar Pages" link pada hasil pencarian Google, dengan Advanced Search, Specific Search > Similar.
 
info:
Query [info: ] akan menunjukkan beberapa informassi yang dimiliki google tentang halaman web dimaksud. Misal, [info:www.google.com] akan memberikan informasi tentang Google homepage. Bisa jadi tidak terdapat space antara "info:" dan url web yang ditemukan.

Fungsi ini juga dapat diakses dengan mengetikkan url web yang dimaksud ke dalam kotak pencarian Google.

define: 

Query [define:] akan membantu mendefinisikan kata yang Anda masukkan setelah query tersebut, didapatkan dari berbagai sumber daring (dalam jaringan/online). Definisinya akan berupa dari hasil frasa yang dimasukkan setelahnya (akan memunculkan hasil yang persis dengan yang Anda ketikkan).
 
stocks:
Query yang diawali operator [stocks:], Google akan memberikan seluruh pernyataan dalam query sebagai simbol stock ticker, dan akan menautkannya ke sebuah halaman yang menunjuk informasi gambar yang berkaitan dengan simbol tersebut. Misal, [stocks: intc yhoo] akan menunjukkan informasi tentang Intel and Yahoo. (masukkan nama simbolnya, bukan nama perusahaan)

Fungsi ini bisa juga diakses jika Anda mengakses pencarian hanya simbol-simbol (misal [ intc yhoo ]) lalu klik link  "Show stock quotes" pada hasil pencarian.

Wednesday, February 29, 2012

Jenuhnya Masyarakat Maya & Politik + Hukum

Surfing adalah rutinitas para penjelajah cyberspace. Sudahkah Anda melakukannya hari ini? karena ini adalah hidup, surf and search. Cari tahu apa yang Anda belum tahu, atau ingatlah sesuatu dengan cara mencarinya, atau saat Anda mencari sesuatu Anda jadi teringat ini-itu dan memasukkan saja ingatan itu ke dalam search engine. Tak lama pun Anda larut dalam menyimaknya, lalu merunutnya ke hal-hal berkaitan atau tema serupa. Begitu seterusnya.

Dalam dua jenis situs populer di Indonesia: Situs Berita (Yahoo News, Kompasdotcom, detik, dlsb), dan Situs Jejaring Sosial murni (Facebook, Twitter, Kaskus, dll), optimalisasi penggunaan adalah pencarian (termasuk mengamati newsfeeds) dan menyimaknya, yang kedua adalah mengomentari.


Menyimak isi dari tulisan atau video, maupun foto tentu akan memberikan wawasan baru bagi yang menyimak, hal yang baru yang ia miliki sendiri entah kemudian akan dibagikan atau diendapkan dalam benak untuk berusaha menghasilkan "berita baru". Dan komentar atas konten merupakan servis yang diatur dengan privasi dan keamanan sesuai dengan personal dan fasilitas akun suatu situs.

Kejenuhan penyimak terhadap suatu hal bisa dilampiaskan dalam berbagai bentuk komentar, kejenuhan tersebut dapat berubah menjadi demikian buruk dan merajalela ke mana-mana dalam berbagai postingan atau forum, mereka yang melakukannya pun spesifik. Jejaring sosial terdapat dua macam allowance dalam hal comment, open (biasanya bermodel forum terbuka), dan fleksibel (biasa pada social networking yang berkarakter pertemanan dengan approval dan follow). Saya katakan fleksibel karena berbagai akun bisa melakukan penyetelan privasi yang berbeda-beda, tight, loose, public, or any other kind of option, atau lebih sedikit.

Filter dalam komentar adalah ada pada personal masing-masing, facebook (misalnya) tidak bisa memfilter kata-kata buruk yang bersifat menyerang, secara otomatis.

Begitu banyak hal buruk dibagi di Facebook dan Yahoo News (keduanya, terutama), begitu liar terkadang dalam komentar, beruntung facebook yang bisa kita lakukan kritik atau menghapus komentar tak sedap secara sepihak . Kata-kata hinaan dan cercaan di Yahoo News kini sudah memberikan citra buruk pada Yahoo itu sendiri. "Yahoo tidak beres" orang akan berpikir begitu.

Ada beberapa keluhan juga tentang kurang mendalamnya tulisan-tulisan dalam Kompasiana, predikat sosialnya menurun. walau mereka yang tidak tahu dengan benar, tetap membuat link ke berbagai positngan kurang bermutu dari kompasiana. Kompasiana dahulu adalah public news portal bagian dari kompas.com, beberapa senior kompasianer (para perajin kata di kompasiana) sempat mengeluhkan hal itu. Wal hasil, kini kompasiana tak ubahnya blog anak muda yang kadang galau. Tetapi orang masih saja memposting link dengan konten kurang sipnya, di berbagai jejaring sosialnya. Celakanya jika itu dijadikan rujukan ilmiah.

Lalu apa hubungannya dengan Politik dan Hukum?
Politik kita sama, di parlemen mereka saling cari celah, itu karena pecahan mereka banyak, banyak partai, banyak kepentinga. Sebagaimana di jejaring sosial, saling menekan itu biasa, seperti berita anak SD saling bunuh karena rebutan cowok.

Hukum dengan berbagai suara publik yang demikian luas dan beraneka ragam sebaiknya juga mengawasi perkembangan psikologi massa dalam cyberspace dan mengamati forum yang sesuai, tidak fokus pada jejaring sosial dan pemberitaan tertentu saja.

Dan mereka yang tidak tersentuh nternet pun masih banyak. Saya pun kadang rindu masa-masa sebelum internet.

Tuesday, February 28, 2012

Kritisisme Facebook

[lebih lengkap di wikipedia]

Membahas situs jejaring sosial terbesar secara keseluruhan merupakan hal yang menarik dan bisa memunculkan pelajaran baru bagi para marketers, para pemerhati sosial, aktifis sosial cyber, aktifis informasi dan teknologi, dan hampir keseluruhan tata masyarakat yang berbasis sosial atau yang terkait erat dengan sosial dan teknologi akan terpesona dibuatnya.

Facebook telah mengalami banyak perkembangan dari sisi keamanan, privasi, pengembangan konten, perkembangan aplikasi, hiburan, interaksi, dan masih banyak lagi ukuran-ukuran teknis yang ada di berbagai teknologi web yang berkembang seiring kebutuhan para pemilik akun, setiap personal diberikan hak untuk mengatur sistem privasi dan keamanannya. Orang bisa mengoptimalkan privasi sampai tingkat paling ketat dan bisa menerapkan beberapa jalur keamanan untuk menjaga akunnya. Dari tindakan orang asing yang tidak diharapkan.

Yang menjadi pola sosial dalam facebook kemudian menjadi pola sosial yang lazim bagi keseluruhan pengguna internet. Sebagaimana Page yang dibuat pada Facebook menjadi referensi simbolis respon publik terhadap produk mereka di luar sana.


Berbagai regulasi atau aturan sosial sudah diterapkan di mana-mana dalam facebook, mulai dari tidak diijinkannya membagi link yang sudah di-blacklist hingga pemberian tag teman pada berbagai post, terkait dengan privasi dan keamanan. Sehubungan dengan itu facebook terus memelihara kenyamanan di dalam dan menutup dari ketidaknyamanan, kecuali pemilik akun teledor dan mengakibatkan keamanan dan privasinya tercederai. Bisa juga karena lemahnya pengetahuan dan kemampuannya dalam mengelola keduanya, baik privacy maupun security account.



Thursday, February 23, 2012

Matinya Facebook

Orang suka menuliskan tentang prediksi kehancuran sistem, kemerosotan nilai saham di bursa, ancaman baru atas sistem lama, atau ancaman yang menghentikan popularitas suatu jejaring sosial besar sekelas facebook.

Permasalahannya adalah manusia serta masyarakat selalu berubah, selalu ada saja sistem baru yang mampu memberikan kepuasan lebih kepada siapa saja. Dan di lain sisi, pergantian generasi pemilik suatu sistem akan mengakibatkan perubahan stamina (kita belum meilihat seperti apa Apple di masa akan datang setelah meninggalnya Steve Jobs). Dan mereka yang dahulu muda, kemudian akan menua, ini juga merupakan faktor sosial.

Usia, jenis kelamin, pekerjaan, kemampuan keuangan, dan sebagainya. Kini kita bisa menambahkan aspek "koneksi terhadap internet" sebagai salah satu hal yang memengaruhi interaksi manusia dengan manusia dalam ruang sosial (cybersociety). Facebook saat ini adalah salah satu alat sosial, terlepas dari karakternya yang netral (siapa saja bisa berbagi dengan berbagai cara secara bebas pada teman-temannya, kepada orang khusus/pribadi, atau temannya teman (selama dalam kode etik bersama dalam fb)), dan facebook sebagai ruang juga akan terpengaruh oleh aspek-aspek sosial lainnya sebagaimana beberapa di antaranya tersebut di atas. Jika yang lainnya berubah secara drastis (baik positif maupun negatif), maka peran facebook juga berubah, baik semakin utama atau malah merosot tak berarti.

Ketergantungan sosial media adalah kepada masyarakat manusia, perjuangan para programmer dan manajer di markas besar facebook adalah dalam rangka menjaga stabilitas facebook sebagai ruang publik dan saat bersamaan juga menjaga agar upaya kontrolnya tidak terlalu menghilangkan rasa nyaman berinteraksi di dalam ruang facebook. Pada beberapa aspeknya, jejaring sosial semacam facebook juga menciptakan ruang yang bisa dikonfigurasikan secara personal oleh pengguna, dan upaya menciptakan ruang sosial yang kondusif dan stabil juga melibatkan para pengguna, facebook sadar bahwa sebagai sarana sosial ia meski sedinamis gerak sosial itu sendiri.

Celaka buat jejaring sosial adalah pada permasalahan lemahnya pengelolaan basis data, kapasitas, kemudahan mengakses, dan interaksionalisasinya. Basis data memerlukan otak para manusia berbasis manajemen informatika, kapasitas adalah pertimbangan kecepatan dan kecukupan aset server dalam melakukan servis yang juga dituntut senantiasa free (mengolahnya menjadi profit adalah cara mereka bertahan hidup, yang menjadi beban utama para manajer marketing+periklanan).

Tidak perlu dijelaskan terlalu rumit di sini tentang rentetan permasalahan yang mungkin terjadi, karena suasana sosial yang terlalu kompleks dalam ukuran internasional cenderung beresiko untuk  saling berbenturan dan menciptakan konflik. Maka pada intinya adalah, kehancuran facebook adalah selama aspek-aspek penalaran sosial dan manajemen teknologi informasi tidak berjalan efektif. hal ini bisa dikatakan sebagai faktor kemungkinan internal. Sedangkan aspek eskternal adalah, saat masyarakat secara global sudah tidak seperti ini lagi, gejolak sosial secara offline tidak selamanya membutuhkan facebook, sesuatu yang chaotic bisa terjadi di mana-mana dan kapan saja saat ini, atau suatu saat nanti.

Facebook bukanlah wujud jejaring sosial maya, yang bisa sepenuhnya mewadahi pergolakan sosial di luar internet, yang live dan terjadi sehari-hari. Saat orang mulai menyebar sikap fanatik masing-masing, maka ia telah tidak lagi sosial dalam  facebook, ia tetap lebih solid secara sosial di luar sana bukan di facebook, saat seseorang telah mulai resist terhadap kebebasan memberikan opini di facebook yang kurang bisa menakar toleransi secara spontan. Demikianlah, yang dikatakan dengan cyber society tetap saja hal semu yang rentan tercerabut dari kehidupan yang riil. Yang cyber dan maya tetaplah tidak bisa memberikan sentuhan fisik yang lebih emosional, saat orang menyadarinya beberapa melihat yang maya adalah pendorong kepada peningkatan kedekatan sosial. Akan tetapi kembali kepada aspek penentu kualitas sosial kembali sebagaimana di atas. Aksesibilitas terhadap internet apakah menjamin kualitas sosial riil kita lebih baik ataukah lebih apatis? itu adalah hal subjektif, tetapi subjektif yang sangat massif, dalam dunia saat ini.

Tinggalkan Facebook! ;)

Saturday, December 31, 2011

perlindungan dalam cyberspace di indonesia



Kini berbagai departemen telah secara antusias dan persuasif memanfaatkan jasa perlindungan dan keamanan data. kebutuhan ini telah meliputi jasa-jasa layanan publik baik sektor swasta maupun pemerintahan.
Perlu disadari, bahwa penanganan kejahatan di dunia maya masih terus berlanjut dan terus ditingkatkan dengan kemampuan masing masing. sejak disadari tidak adanya kemampuan yang memadai dari aparat penegak hukum dalam menangani kejahatan cyber, maka sistem perlindungan diri secara swadaya terus dijadikan patokan utama bagi keamanan masing-masing.
sayangnya adalah, kinerja lamban tidak mampu mengimbangi peningkatan jumlah tindak kejahatan

Monday, October 24, 2011

virtual



virtualitas adalah bagian dari cara kita kini mengoleksi informasi

[.... sedang mengkoleksi ide]

Tuesday, August 30, 2011

facebook, twitter, dan kesabaran ummat dalam perbedaan lebaran

Kebetulan saya secara statistik tidak terdata jadi warga salah satu ormas Islam. Dan keributan di facebook maupun twitter sudah terasa.
Ribut soal perbedaan lebaran tidak sepanas tahun lalu, yang sebenarnya juga berbeda.
Sebenarnya tidak sepanas ini saya rasa, perbedaannya adalah kita berada dalam ruang publik yang lebih terbuka dan informatif, interaktifitas antara satu dan lainnya juga lebih terbuka luas.
Semua jadi mudah heboh dan bergejolak dengan adanya persebaran masalah yang ada. Semakin tinggi komunikasi maka perselisihan paket data yang dikirimkan akan semakin beragam dan masing-masing beda akan menciptakan mainstream sendiri-sendiri, dengan ketegangan masing-masing yang berbeda-beda (dengan banyak kata ulang, dan dengan tingginya perulangan informasi).
Tidak lagi membahas perbedaan cara pandang dalam menyelesaikan permasalahan penentuan awal bulan dan akhir bulan, pokok informasinya adalah sekedar berbeda dan keterkaitannya dengan berbagai hal khas Ramadhan dan 1 Syawal yang dielu-elukan.
Media / Jejaring Sosial di dunia maya memiliki ruang-ruang emosionalnya sendiri-sendiri. Kedekatan di antara satu pemilik akun dengan pemilik akun lainnya akan mampu menularkan ekspresi kegelisahannya atau kebijaksanaannya dalam memandang permasalahan ini. Terkadang penularan itu terlalu meledak dengan cepat, dan menjadi trend di twitter. Dan di Facebook lebih marak dengan perujukan informasi kepada sumber data di luar situs tersebut, yang tetap bisa fleksibel memainkan peran keterhubungannya dengan twitter.




Dan ternyata
Dan sekali lagi media jejaring social maya menjadi ruang kritik yang tajam terhadap keputusan MUI untuk mengeksekusi jatuhnya 1 Syawal pada 31 Agustus 2011. Ada kritik tajam terhadap konsep kepercayaan dan kepatuhan masyarakat muslim kepada "Ulil Amri", di saat otoritas pemerintah telah mulai hilang dan surut dari hati masyarakat, apakah bisa kita disalahkan dan dituduh rendah dengan memakai pendapat yang populer dalam mengambil sikap terhadap penentuan akhir Ramadhan?
Sekali lagi, saya bukanlah seorang yang mengikuti erat pada pendapat salah satu ormas Islam negeri ini, tetapi saya menghargai perbedaan dan tidak ingin perbedaan justru diperumit dengan penetapan 1 Syawal pada malam saat sebagian yang lain sudah menentukan bahwa dua jam yang lalu sudah 1 Syawal.
Melalui MUI yang notabene adalah Islam-nya pemerintah, atau kebenaran ALLAH Swt yang hadir kepada ummat Indonesia (dengan berbagai filter politis tentunya). Keadaan menjadi pelik.
Tidak hanya Muhammadiyah yang menjalankan Shalat Ied esok tadi (30 Agustus 2011) tetapi ada ribuan warga NU di Jawa Timur yang juga melaksanakannya (silakan baca: link ini), tetapi berhubung ketetapan pemerintah dan PBNU adalah sejalan dan sepakat untuk menetapkannya di hari Rabu, maka jumlah ummat yang ada di luar keputusan MUI adalah tidak minor, bisa jadi 50:50.
Dan pemerintah melalui otoritas MUI menang melalui poling dan penalaran mereka (dengan beberapa tokoh di dalamnya yang bertanggungjawab menentukan arah gerak ummat) siap menanggung kesalahan jamaahnya, yang dikarena kelalaian atau keangkuhan dalam memegang mandat.

Kritik Ideologi
Kritik terhadap ideologi adalah kritik terhadap kepentingan pemegang otoritas dan pengetahuan yang mereka miliki, untuk menggiring akal publiknya.
Kritik dari contoh luas kita di ruang underground cyber, memberikan contoh mendasar bagaimana kesalahan yang ada dan merasakan bahwa dirinya mapan dan benar sendiri akan terus dikritik dan mendapatkan gesekan keras dari mereka yang menemukan kesalahan atasnya, dan hal ini dilakukan secara bebas. Dengan memanfaatkan  ruang publik dan kemungkinan luas publisitasnyalah individi menyebarkan pembelaannya dan dukungan praktisnya ke dalam ruang sosial mayantara. Dari sanalah fakta akan menemui pendapat kolektif.
Kritik kekuasaan MUI dan fakta yang berkebalikan di lapangan adalah kepongahan mereka kali ini, dan ummat memang perlu menanggung sabar sebaik mungkin dan menjadi bijaksana.
Masyarakat terus belajar bijaksana dengan menyaksikan orang-orang yang kurang bijaksana, begitulah manusia yang dibekali sabar dan tawakkal bersikap. Semoga ALLAH senantiasa merahmati ummat Islam di bumi Nusantara, dan ummat lainnya yang harus menanggung kesalahan teoritis dan kesalahan penerapan kekuasaan negara saat ini. Semoga doa untuk dihapusnya pemerintah rusak dan bermasadepan suram itu segera terlaksana.

Dan
Semestinya bukan kebencian yang bersulut sulut dalam menghadapi ini semua. Publik bisa menciptakan kritik massalnya dengan kedekatan satu sama lain dalam ruang sosial mayantara, ruang yang memudahkan orang bersentuhan dengan mereka yang lebih banyak. Keadaan era informasi digital adalah era saat yang mayoritas dalam jumlah akan menggerakkan sistem, bukan lagi kekuasaan yang tidak bertanggungjawab yang terdiri atas beberapa orang kurang amanah.
Kini tak ada lagi efektifitas surat kepada pemimpin, Jejaring sosial maya adalah jawaban pas untuk menggerakkan ruang, dari ruang maya kepada ruang nyata.
Semua ini menjadi mungkin, karena internet tidak dikontrol oleh otoritas yang otoriter dan menindas beberapa hak Anda.
Tetapi, setidaknya Anda harus selalu waspada dan terus mawas diri terhadap ruang maya Anda. Tidak semua informasi di sini adalah benar sepenuhnya.
Dalam lautan informasi inilah, justru ada hitungan tak terbatas (yang terus meningkat), atas celah distorsi. Yang mampu menyimpangkan pikiran dan nalar Anda tentang sesuatu.

"Keep Learning and Watching around, keep aware"

Saturday, August 27, 2011

How Airlines Use Twitter [Infographic]

How Airlines Use Twitter [Infographic]
by Richard Darell (bitrebels.com)

It’s not a complete surprise that more and more companies actually get what Twitter is all about.  It’s not even a huge surprise that companies that seemingly wouldn’t really profit from tweeting (because of the way the company is run) are still starting to embrace the service.  I personally think it’s great, and it sheds new light on how they are evolving into something more organic rather than just huge corporate infrastructures that even the tycoons of the business find boring in today’s business landscape.
It’s not only inspiring, but it also goes to show that Twitter has an enormous impact on any company if they just decide to use it right.  By “right,” I don’t mean following all the guidelines that have been set up by the early adopters of the service.  No, I mean to use it in the way that it profits the company and enhances the look of the brand without necessarily becoming a boring ole discount sharing tweet machine.
It’s interesting; however, to see how airlines have adopted Twitter in their own form.  The instant recognition of right and wrong is what stands out the most here.  If a negative tweet is tweeted by an unhappy customer, the airline has a chance to deal with the issue right away.  Whether it be to dismiss the complaint or to reward the customer in public for pointing out service flaws, it’s a way to reach out and do some good.
This really interesting infographic from Travel 2.0 Consulting is a great look at how airlines are adopting the service, and how they supposedly are doing it.  But as with any company, the larger it is, the harder it will become to keep track of what everyone is doing.  So, all the negativity might not hit the highest hen before the damage is already done.  I am sure they are working on optimizing that… or so I hope!


>>Click here to see the full-view infrographic<<



Friday, August 26, 2011

Hacker dalam Culture

Pertemuan dengan beberapa hacker adalah pertemuan yang mengesankan, bagaimana kemampuan mereka yang beragam dan dasar-dasar nilai yang mereka serap juga beragam.
Alasan seseorang melakukan serangan terhadap suatu situs pun sangat beragam, bisa karena alasan politis, ter0r, agama, pamer, sampai hanya sekedar iseng. Dan dari sedemikian banyak gagasan tentang serangan (cyber tresspass) yang menarik banyak perhatian adalah defacement. Defacement ini menerapkan beberapa trick dalam hacking, tetapi tidak semua defacer bisa kita katakan sebagai hacker, hal ini sangat relatif dengan kemampuan personal. Dan lebih dalam, tingkat kesulitan dalam melakukan serangan juga menentukan kemampuan pelakunya. Security web yang demikian kuat akan membutuhkan serangan dengan kemampuan hebat, tidak hanya serangan seperti kepada basis data yang memang mudah dibuka melalui celah yang populer (kalau yang ini, siapa pun bisa mengimplementasikannya, dengan bantuan google dan beberapa tindakan lebih lanjut).


Hacker dalam pandangan umum
Masyarakat memiliki pandangan yang berbeda beda tentang hacker dan dunianya, akan tetapi sebagian besar yang mereka dapatkan adalah definisi yang tersebar di media massa. Media ini lantas memengaruhi pandangan pada pengambil kebijakan, dan begitu pula terus berantai. Orang-orang yang memahami dan mengambil konsep 'hacker' itu dengan apa adanya dari film-film yang mereka tonton, atau buku-buku sains-fiksi yang mereka baca, dan berita-berita tentang kejahatan cyber di koran dan televisi dan isu-isu yang menyebar di jejaring sosial. Konsep tentang hacker kemudian bergeser dari bentuk awalnya, konsep ini terdistorsi oleh media dan peran mulut-telinga-mulut-telinga yang tak habis-habisnya.
Dan kelemahan informasi yang tidak ada patokan idealnya adalah, pengertian tentang sesuatu itu pastilah akan sangat mudah terdistorsi.
Oleh karenanya, pada akhirnya, pemahaman dan pengenalan setiap orang mengenai 'hacker' dan dunianya adalah tergantung kepada dua hal utama:
  1. Persentuhannya dengan dunia hacker secara interaktif. Yang dapat memanfaatkan komunikasi atau media pembelajaran yang ada dalam komunitas, jauh dan dekatnya seseorang terhadap individu profesional hacker dan komunitasnya akan memberikan persepsi atau pemahaman yang beragam. Keberagaman kelompok hacker juga menentukan pandangan ini.
  2. Kepercayaan kepada media kultural. Media seperti televisi, buku, berita via internet atau koran digital dan sebagainya, apa pun yang diberitakan dan disampaikan di dalamnya sangat tergantung kepada kepercayaan publik. Semakin kepercayaan itu mudah dibentuk, maka persepsi di benak penyimaknya akan semakin mudah diarahkan dan berada di bawah pengaruhnya. Termasuk persepsi tentang 'hacker'
Untungnya adalah, hacker kini semakin mudah kita temui dalam kehidupan seiring interaktifitas kita dengan dunia maya dan kebutuhan kita akan keamanan dan kenyamanan di dalamnya. Hal ini mendukung keinginan kita untuk mengenal komunitas hacker lebih dekat, lantas memiliki kedekatan dengan hacker secara personal (di dalam .net). Kedekatan ini memiliki beragam alasan, bisa dengan alasan untuk mendapatkan ilmu, alasan untuk jadi teman, dan dari teman kita bisa mendapatkan keutamaan dalam hal bantuan keamanan sewaktu-waktu. Dan lain sebagainya.

Jika Anda masih ragu dengan kemungkinan untuk mendekati seorang hacker dengan baik, maka kenalilah sisi sosial mereka dan dapatkan ruang untuk lebih komunikatif, untuk membuka pemahaman satu sama lain, karena dari sanalah cara seseorang dapat memahami satu sama lain, dalam ruang-ruang digital, dalam hitungan bites dan dalam ketergantungan sinyal modem Anda. Dalam komunikasi dan dalam ruang sibuk para hacker, kecepatan koneksi adalah sisi lebih yang diperlukan. Karena sesekali kita bisa saling berbagi dengan koneksi yang lebih baik untuk teman hacker kita.
Akan tetapi satu hal yang patut diingat.
"Hacker adalah seniman, dan tidaklah mudah berinteraksi dengan seniman."
Ketahuilah seni dan dunia yang mereka dalami, kenalilah mereka dengan baik dan kesantunan Anda, maka mereka akan senang untuk Anda ajak berbagi pula. Rendahkanlah hati Anda untuk menyimak dan mau menyadari eksistensi hacker dan pentingnya mereka dalam dunia yang kita sebut 'ruang cyber' yang melipat segala ruang dan waktu yang sudah ada.
[sarung]

Thursday, August 4, 2011

Internet and Chaos

Embedded in the mud, glistening green and gold and black,
was a butterfly, very beautiful and very dead.
It fell to the floor, an exquisite thing, a small thing
that could upset balances and knock down a line of
small dominoes and then big dominoes and then
gigantic dominoes, all down the years across Time.
Ray Bradbury (1952)

my first assumption about chaos is
[still thinking and typing offline...]

Saturday, July 30, 2011

Indonesian Hacker Communities: Social art Communities

Talking about hacker communities, it can be so much various. Media opinions which read by public already created public mindset about hacker community. Hacker community is not merely a kind of arrogant-cybersmart persons collection into a single space, it can be a collective senses of social behavior of their real life ('real', to differ with 'cyber'). What the social community do in cyberspace, can imagined as percipitation presentation of their social life art.
We call art to any perspectives that explain their own complexity, and those complexity shown to us as a simple view, a simple imagined view. and so on 'hacker' terminology is not easily to explain, we can find a writer define hacker with his/her own definition, differently from another writer.
we can find much hacker ethics spread out in much websites and cyber community forums, every hacker seed morality in their own community, then by this their community maintain themself. ethics make individuals feel comfort, as long as the morality trigger of community spirit kept by every member, kept constant in its aim and main conception of community design.
[still typing...]

Wednesday, July 27, 2011

Hacker: Subculture in the Cyberworld [2]

Douglas Thomas explained that hacker more precise to mentioned as 'subculture', the culture that bonded with two sides, parental culture, and at the same time characterized to against the parental culture. subculture identified with their unstableness, constant changes in meaning and how the meaning created.
subculture style, then, about identified special objects of cultural semiotics and then take its position back by opposite, to show the refusal from main discourses and for construct a new discourse about re-posititioning, and re-articulate objects. no wonder, the main location of subculture identity is young culture. culture against every authorities.
Dick Hebdige, in analyse the construction of subculture with psychological approach, interested. he said that, this kind culture arise dominantly at the ages of transition, from the space of parental authority to personal responsibilities, which need more self-decision of the young, springed-up as a kind of rebellion and sometimes against nature law--of their environment. and sometimes look criminal alike.
If men cannot refer to common values, which they all separately recognize, then man is incomprehensible to man. The rebel demands that these values should be clearly recognized as part of himself because he knows or suspects that, without them, crime and disorder would reign in the world. An act of rebellion seems to him like a demand for clarity and unity. The most elementary rebellion, paradoxically, expresses an aspiration to order (Rebel, Albert Camus. 1974: 29)
while, research which done with enough scrutinized like what have done by Emmanuel Goldstein (2008: 66) with his writings in hacker popular journal, '2600'. Goldstein has special closeness with hacker world, by his space in 2600. whatever Goldstein did in his researches, can be differed from other observers who only watch hacker society and their lifestyle via medias--movies, or even news reports. just as Douglas Thomas (2002: 141) have said before, that much understandings about hacker world via medias, with the images by the opinions, are much distorted.
so, good approach in research about hacker community is to reach special closeness with the community or hackers themself, authoritative and true conception about personals or society only can be reach by a touch of involvement. and once more, hackers are artists, its not easy to get well communicate with artist, you have to find their true sense of art.

Sunday, July 24, 2011

Hacker: Subculture in the Cyberworld [1]

Hackers

Hacker terminology raised since the beginning of 1960's among members of students of Tech Model Railroad Club in Artificial Intelegent of Massachusetts Institute of Technology (MIT). the word 'hacker' came first with the positive meaning to mention someone who have special ability in computer and skilled to creat computer program better than the program created before in a team.
in reality, hackers are people who love to play with toys. whenever there is a new toy in telecommunication at his/her time, s/he interested to do something to that 'toy' as soon as possible. Emmanuel Goldstein narated historical backgrounds of america's modern telecommunication technologies, with the role of hackers in testing and checking weaknesses of those technologies. and by this ability they did much in upgrading technologies's abilities.
about underground movement in cyberspace we can find in 'Phrack' and '2600'. however its hard to separate between concept of hacker and images of hacker in the public space.
As a young culture, hackers continuesly look for ways to deny autorities and oppose every images and definitions about them.
"Understanding hackers of today necessitates a basic understanding of the history of the subculture that preceded them and of how, traditionally, subcultures have functioned to resist dominant cultural interpretations of them" (Douglas Thomas, 2002: 141)

Thursday, February 12, 2009

Hack!? let's check!


begitu banyak film yang memberikan informasi kepada kita sejauh mana dan seperti apa kemungkinan yang dapat dihadirkan internet kepada kemanusiaan. bukan berupa perubahan kepada human virtue .
dalam Untraceable (2008) dapat kita lihat bagaimana pembunuhan dan kenikmatan bonus internet seiring sejalan. seorang penjahat internet (Owen Reilly) mengkoneksikan software yang terkoneksi dengan situs pribadinya (Kill With Me.com) dengan hardware yang menjadikannya melakukan penyiksaan kepada korbannya. si Owen ini menampilkan interaktivitas dan vidio live dari kejahatan yang dia lakukan.
setiap pertambahan jumlah pengunjung yang melihat atau berkomentar di situsnya akan meningkatkan derajat deadly dari hardware yang ia gunakan untuk mengeksekusi korbannya. dan rasa ingin tahu pengunjung, yang sebagian besar informasinya ia sebarkan lewat jaringan pertemanan, semakin meningkat.
kita juga bisa melihat contoh bagaimana server dari domainname yang ia gunakan dapat dengan leluasanya berganti, setiap kali seseorang menyalakan situsnya. sehingga seseorang yang mengunjungi dan meninggalkan situsnya sebanyak dua kali, maka dia akan mendapati dua server yang berbeda dengan negara yang berbeda pula secara random. inilah yang menjadikan FBI sulit menemukan pelakunya.
pada simpulannya sesungguhnya pihak FBI tidak akan dapat menemukan pelakunya, mungkin sampai detik ini, jika si pelaku tidak memiliki keteledoran mengawasi gerak-gerik korbannya. yang secara intens diamati oleh FBI dengan turut mengakses situsnya secara realtime.
yang kedua adalah Die Hard 4 (2008). kejahatan yang dilakukan lebih luas lagi. seluruh amerika serikat terkena dampak dari kejahatan sekelompok bad-hacker, yang berawal dari sebuah proyek yang diadakan pemerintah untuk membuat berbagai algoritma matematis untuk menunjang sistem keamanan nasional amerika. di lain pihak seorang pelaksana proyek algoritma itu melakukan kejahatan sendiri. ternyata proyeknya tidak ia jalankan sendiri, melainkan ia lakukan bersama para programer-hacker yang ada di seantero negeri dengen melayangkan kuis kompetisi programing aplikasi keamanan dengan algoritma masing-masing peserta. pada akhirnya karena kejahatan yang tak tertahankan untuk medapatkannya lebih jauh. si penjahat utama mengkoordinir beberapa hackernya untuk membunuh satu persatu para kompetitor dalam kuis itu dengan cukup meledakkan pc masing-masing hacker secara remote, yang mampu meluluh lantakkan seisi rumah mereka.
beruntung satu hacker terakhir dari 8 hacker yang hendak dibunuhnya terselamatkan oleh kelalaian si hacker dan kemunculan bruce willis sebagai pihak penegak hukum yang akan menahannya karena telah melakukan serangkaian cybercrime. dari sinilah pertarungan lebih keras berlanjut. muncul kemudian warlock, semacam obi wan kenobi di dunia hacker amerika, yang turun turun tangan. dan semua kembali terselesaikan dengan pertarungan kemampuan cyber.
kita dapat melihat bagaimana kemungkinan yang dapat ditimbulkan dalam dunia cyber, dengan melihat film yang selalu menjadi bahan ajar bagi mereka yang memiliki kemampuan, untuk menjadikannya sebuah kenyataan, jika itu belum terjadi.
baru awal
saat ini moralitas yang terkoyak, dengan munculnya berbagai situs porno, hanyalah sebuah awal. kemudian saat kejahatan cyber menyerang setiap sistem yang menjadikan segalanya mesti terkomputerisasi dan terkoneksi dengan internet, akan dengan mudahnya terhancurkan. seluruh negeri dapat bubar hanya karena kejahatan satu atau dua orang.
bayangkan! manusia kini menjadi kian pandai dan kian malas untuk menjalankan sistem dengan disiplin. semuanya, kemudian, akan diserahkan kepada mesin. otomatisasi akan menjadi impian lebih jauh bagi siapa saja. error yang ditemui di kemudian hari akan berakibat lebih fatal dari sekedar kehilangan file skripsi kita.
ada sebuah mitos dalam dunia internet tentang firesale, di mana kemampuan bad-hacker akan melumpuhkan tiga sektor utama sebuah negara yang terintegrasi dengan satelit-internet secara bertahap. tahap pertama adalah menghancurkan sistem transportasi, tahap kedua menghancurkan sistem keuangan, dan terakhir adalah menghancurkan sistem kebutuhan umum (gas, makanan/ sembako, dll) .
maka keributan yang dibuat akan berakibat fatal. gambaran amerika sebagai negara yang telah mulai total terintegrasi secara cyber akan mampu dihancurkan dari dalam.
maka
kita sebagai pihak yang peduli pada kemanusiaan sudah semestinyalah tidak hanya tergantung pada seseorang. kesadaran cybernetika dan cybercrime mesti menyeluruh. kemungkinan yang akan dihadapi sebagai kejahatan kemanusiaan dan segala tetekbengeknya, di masa akan datang akan dapat diselesaikan hanya dari belakang meja, dengan sebuah laptop.
waspadalah ini hanya permulaan. dan kewajiban kita untuk menjadikan mereka sadar. tidak ada ruang di dunia ini, tanpa hukum!

Hukum Penalaran dan Ilmu Hukum

  Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut ultricies efficitur nunc id accumsan. Aliquam quis facilisis felis. Integer...