Showing posts with label politic. Show all posts
Showing posts with label politic. Show all posts

Thursday, May 9, 2013

Noam Chomsky vs Foucault "Justice vs Power"

when watching, Foucault unable explain in English fluently, there's 'caption menu under the time line of the video, you can turn on to activate, for helping in understanding. only available in France to English.

Democracy, Solidarity and the European Crisis

Here the video of the presentation of lecture delivered by Professor Jürgen Habermas on 26 April 2013 in Leuven.
[some others related link from Leuven website:]




Some pictures from the Leuven for the visit of Professor Jürgen Habermas on 26 April 2013:

Wednesday, December 5, 2012

Facebook dan Google: Ancaman Demokrasi


The Register --- Julian Assange melihat bahwa demokrasi tengah dalam keadaan bahaya dengan adanya monitoring pemerintah atas internet, dan Facebook maupun Google membantu proses pemantauan itu.
Assange menjelaskan keyakinannya bahwa bangsa-bangsa kini mendapat pengawasan dalam skala yang sangat besar, karena “lebih menghemat biaya untuk menangkap tiap orang dari pada mengambil beberapa orang untuk memata-matai.”

Tuesday, August 30, 2011

facebook, twitter, dan kesabaran ummat dalam perbedaan lebaran

Kebetulan saya secara statistik tidak terdata jadi warga salah satu ormas Islam. Dan keributan di facebook maupun twitter sudah terasa.
Ribut soal perbedaan lebaran tidak sepanas tahun lalu, yang sebenarnya juga berbeda.
Sebenarnya tidak sepanas ini saya rasa, perbedaannya adalah kita berada dalam ruang publik yang lebih terbuka dan informatif, interaktifitas antara satu dan lainnya juga lebih terbuka luas.
Semua jadi mudah heboh dan bergejolak dengan adanya persebaran masalah yang ada. Semakin tinggi komunikasi maka perselisihan paket data yang dikirimkan akan semakin beragam dan masing-masing beda akan menciptakan mainstream sendiri-sendiri, dengan ketegangan masing-masing yang berbeda-beda (dengan banyak kata ulang, dan dengan tingginya perulangan informasi).
Tidak lagi membahas perbedaan cara pandang dalam menyelesaikan permasalahan penentuan awal bulan dan akhir bulan, pokok informasinya adalah sekedar berbeda dan keterkaitannya dengan berbagai hal khas Ramadhan dan 1 Syawal yang dielu-elukan.
Media / Jejaring Sosial di dunia maya memiliki ruang-ruang emosionalnya sendiri-sendiri. Kedekatan di antara satu pemilik akun dengan pemilik akun lainnya akan mampu menularkan ekspresi kegelisahannya atau kebijaksanaannya dalam memandang permasalahan ini. Terkadang penularan itu terlalu meledak dengan cepat, dan menjadi trend di twitter. Dan di Facebook lebih marak dengan perujukan informasi kepada sumber data di luar situs tersebut, yang tetap bisa fleksibel memainkan peran keterhubungannya dengan twitter.




Dan ternyata
Dan sekali lagi media jejaring social maya menjadi ruang kritik yang tajam terhadap keputusan MUI untuk mengeksekusi jatuhnya 1 Syawal pada 31 Agustus 2011. Ada kritik tajam terhadap konsep kepercayaan dan kepatuhan masyarakat muslim kepada "Ulil Amri", di saat otoritas pemerintah telah mulai hilang dan surut dari hati masyarakat, apakah bisa kita disalahkan dan dituduh rendah dengan memakai pendapat yang populer dalam mengambil sikap terhadap penentuan akhir Ramadhan?
Sekali lagi, saya bukanlah seorang yang mengikuti erat pada pendapat salah satu ormas Islam negeri ini, tetapi saya menghargai perbedaan dan tidak ingin perbedaan justru diperumit dengan penetapan 1 Syawal pada malam saat sebagian yang lain sudah menentukan bahwa dua jam yang lalu sudah 1 Syawal.
Melalui MUI yang notabene adalah Islam-nya pemerintah, atau kebenaran ALLAH Swt yang hadir kepada ummat Indonesia (dengan berbagai filter politis tentunya). Keadaan menjadi pelik.
Tidak hanya Muhammadiyah yang menjalankan Shalat Ied esok tadi (30 Agustus 2011) tetapi ada ribuan warga NU di Jawa Timur yang juga melaksanakannya (silakan baca: link ini), tetapi berhubung ketetapan pemerintah dan PBNU adalah sejalan dan sepakat untuk menetapkannya di hari Rabu, maka jumlah ummat yang ada di luar keputusan MUI adalah tidak minor, bisa jadi 50:50.
Dan pemerintah melalui otoritas MUI menang melalui poling dan penalaran mereka (dengan beberapa tokoh di dalamnya yang bertanggungjawab menentukan arah gerak ummat) siap menanggung kesalahan jamaahnya, yang dikarena kelalaian atau keangkuhan dalam memegang mandat.

Kritik Ideologi
Kritik terhadap ideologi adalah kritik terhadap kepentingan pemegang otoritas dan pengetahuan yang mereka miliki, untuk menggiring akal publiknya.
Kritik dari contoh luas kita di ruang underground cyber, memberikan contoh mendasar bagaimana kesalahan yang ada dan merasakan bahwa dirinya mapan dan benar sendiri akan terus dikritik dan mendapatkan gesekan keras dari mereka yang menemukan kesalahan atasnya, dan hal ini dilakukan secara bebas. Dengan memanfaatkan  ruang publik dan kemungkinan luas publisitasnyalah individi menyebarkan pembelaannya dan dukungan praktisnya ke dalam ruang sosial mayantara. Dari sanalah fakta akan menemui pendapat kolektif.
Kritik kekuasaan MUI dan fakta yang berkebalikan di lapangan adalah kepongahan mereka kali ini, dan ummat memang perlu menanggung sabar sebaik mungkin dan menjadi bijaksana.
Masyarakat terus belajar bijaksana dengan menyaksikan orang-orang yang kurang bijaksana, begitulah manusia yang dibekali sabar dan tawakkal bersikap. Semoga ALLAH senantiasa merahmati ummat Islam di bumi Nusantara, dan ummat lainnya yang harus menanggung kesalahan teoritis dan kesalahan penerapan kekuasaan negara saat ini. Semoga doa untuk dihapusnya pemerintah rusak dan bermasadepan suram itu segera terlaksana.

Dan
Semestinya bukan kebencian yang bersulut sulut dalam menghadapi ini semua. Publik bisa menciptakan kritik massalnya dengan kedekatan satu sama lain dalam ruang sosial mayantara, ruang yang memudahkan orang bersentuhan dengan mereka yang lebih banyak. Keadaan era informasi digital adalah era saat yang mayoritas dalam jumlah akan menggerakkan sistem, bukan lagi kekuasaan yang tidak bertanggungjawab yang terdiri atas beberapa orang kurang amanah.
Kini tak ada lagi efektifitas surat kepada pemimpin, Jejaring sosial maya adalah jawaban pas untuk menggerakkan ruang, dari ruang maya kepada ruang nyata.
Semua ini menjadi mungkin, karena internet tidak dikontrol oleh otoritas yang otoriter dan menindas beberapa hak Anda.
Tetapi, setidaknya Anda harus selalu waspada dan terus mawas diri terhadap ruang maya Anda. Tidak semua informasi di sini adalah benar sepenuhnya.
Dalam lautan informasi inilah, justru ada hitungan tak terbatas (yang terus meningkat), atas celah distorsi. Yang mampu menyimpangkan pikiran dan nalar Anda tentang sesuatu.

"Keep Learning and Watching around, keep aware"

Sunday, August 28, 2011

Kehancuran Negara dan Revolusi Tanpa Senjata


picture source: Cris Escher

Ini adalah percakapan antara saya dan seorang pensiunan AD yang tak pernah berhenti dengan jiwa prajuritnya, kami melihat negara ini dengan cara yang sama. Sama-sama geram, sekaligus optimis. Optimis dengan adanya gerakan perubahan untuk lebih baik.
Dan ini adalah pertemuan penilaian gagasan-gagasan dua generasi yang mencintai negeri Indonesia mereka, saat menjadi amil zakat fitrah Ramadhan ini.

Menurut Anda seperti apakah negara kita saat ini?
Jika kita berbicara mengenai negara, maka kita berandai-andai berada di dalam sistem pemerintahan. Pemerintahan adalah adanya hubungan komando antara tukang perintah dan yang diperintah. Di dalamnya ada kedaulatan negara dan kerelaan tiap unsur-unsurnya yang berupa rakyat dan bentuk-bentuk privat lainnya untuk diatur dalam suatu sistem, kerelaan mereka ini yang ada dalam negara adalah secara sukarela (namanya juga rela). Kedaulatan hidup dan kebebasan tiap individu dalam negara dipercayakan kepada sistem yang sekiranya dapat melindungi diri mereka dari buasnya kehidupan liar. Hal ini kita pelajari dalam dasar pengenalan tentang bentuk asal-usul negara.

Pada kenyataannya kegelisahan rakyat sudah sedemikian kurang dapat diserap dan diimplementasikan pemetintah dalam bentuk kebijakan-kebijakan praktisnya dengan baik. Kerelaan untuk diatur dan kurangnya perhatian Negara kepada masyarakat yang diaturnya sungguh bukanlah hal yang jujur dan seimbang, bukan suatu hubungan timbal-balik yang bermanfaat dan berjalan baik. Arogansi Negara sudah dirasakan oleh rakyat dengan jelas pada berbagai hal, dan tidak diingkari dalam berbagai hal lainnya juga Negara mengambil peran baik dalam mengelola jalannya sistem. Namun, kegelisahan yang cukup luas dalam berbagai unsur kehidupan yang dialami oleh rakyat rupanya tidak dapat dicakup dengan baik oleh para pengelola sistem.

Jika keadaan telah timpang, maka kepercayaan akan surut. Pada akhirnya Negara seperti agama yang sudah mulai berkurang orang-orang yang mengimaninya dengan baik, hanya simbol pada hal-hal tertentu. Ke-Indonesia-an bisa jadi hanya muncul dalam Timnas sepakbola bagi sebagian orang, dan tidak ada pada hal lain. Keyakinan masyarakatnya sendiri terhadap Negara dalam menjadi tumpuan hidup kian rentan.

Revolusi Tanpa Senjata
Kita, pada keadaan yang kira-kira mendekati keserupaan dengan keadaan yang memicu revolusi perancis dan beberapa revolusi lain. Saat ketimpangan antara proletar dengan tingginya posisi borjuis dan hilangnya ruang-ruang yang menjadi antara bagi keduanya, kemudian mendorong adanya ketimpangan ekstrim.

Kekuasaan dan uang di negeri ini sudah mampu membeli kebutuhan hukum dan kebutuhan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan soal makan. Yang kaya sudah sedemikian mencolok di antara kita, sedangkan yang kian menuju miskin meningkat dalam jumlah yang luar biasa.
[still typing...]

Friday, August 5, 2011

Berpikir tentang korupsi+politik+ekonomi Indonesia

Menyisakan sedikit waktu untuk memikirkan korupsi di Indonesia



Pertama, setidaknya janganlah menyampaikan ungkapan yang kadang disampaikan beberapa orang, "korupsi sebagai budaya bangsa Indonesia". pengertian ini sangat bertentangan atau merendahkan citra kebangsaan, dan makna 'budaya', karena budaya adalah karsa dan rasa yang terwujud dalam tindakan nyata yang tidak lepas dari nilai-nilai luhur sosial di dalamnya.
Kedua, bagaimanapun kekuasaan dan kecenderungan korupsi adalah hal yang perlu selalu diwaspadai. terlebih di indonesia ini, pasca suharto yang dipupuk semenjak era suharto. karakter kekuasaan yang diciptakan pada masanya memang menjadikannya dikelilingi oleh para penguasa-penguasa kecil di bawah posisi suharto.
Ketiga, sekali lagi saya searah dengan pak Winters soal pendapatnya tentang jejak oligarchy di indonesia yang berharap lahir di masa sukarno, subur di masa suharto, dan kemudian sporadis ke mana-mana di masa pasca suharto.
oligarchy sekali lagi adalah model yang sebenarnya khas dengan demokrasi modern, atau otoritanisme demokrasi khas era kekuasaan partai-partai yang mengenal koalisi dalam berbagi peran puncak.
oligarchy, menemukan energinya di era suharto, secara nasional kita dikontrol oleh kekuasaan dan kini uanglah yang membeli setiap hak utama tiap unsur publik. kita dikendalikan oleh segelintir penguasa ekonomi. dan kita dikurangi haknya untuk menikmati kesejahteraan, dikurangilah keutamaan kita sebagai warga negara.
Keempat, para anak-anak didik suharto yang tersebar di segala sektor kini, hampir tidak bisa dihitung, bahwa setiap mereka memliki kekuasaan juga di sektor-sektor ekstraksi atau penambangan. kita bisa lihat bahwa era sang guru yang mempopulerkan industri manufaktur, dahulu, memberikan kelas buruh yang besar. industrialisasi, kota sebagai konsep kesejahteraan.
kini pertambangan yang mereka kuasa dengan ijin eksplorasi dan penggalian yang gila-gilaan, menciptakan konsep uang instant, lebih cepat daripada konsep uang yang didapatkan buruh pada masa manufaktur. pertambangan adalah sisi lain neoliberalisme yang menggerogoti perikehidupan kita. bagaimana tidak? kontrol negara terhadap UU Agraria sengaja dilepas kepada industri yang jelas-jelas dilarang memiliki/membeli tanah dari rakyat, dan mereka disilahkan berproduksi dan merusak ekologi secara dahsyat. percayalah, bukti sudah banyak.
kini harapan rakyat pada hukum adalah pada sisi perlindungan lingkungan hidup, toh tidak satupun korporasi yang pernah bisa diseret ke meja hijau. upaya penegak hukum dalam mempersonalisasikan industri di meja hukum gagal. dan kebutuhan pokok ttg air udara dan tanah tidak terpenuhi, cemar. sedangkan angka kesejahteraan tiap kota diukur dengan ukuran khas bank dunia, yaitu: kesehatan, pendidikan, dan kemampuan membeli(daya beli). unsur perhatian lingkungan oleh pemerintah? non ya business!
kelima, kita wajib menyadari sisi desentralisasi yang ada selepas 99', menciptakan keinginan daerah mengejar pendapat daerahnya, dan para pejabat negeri mengejar kekayaan, orang terpacu bahwa hanya dengan menjadi pns mereka akan sejahtera, ini pengkerdilan di negeri yang kaya. dan imbasnya, we have a fat beurocracy, dont we?
intinya memang goodwill dari pemimpin, tetapi sekali lagi, akar dan rengkuhan oligarchy yang sudah ada sejak lama justru menjerat setiap orang yang ada di posisi puncak, macet ide dan jelas tidak cerdas. dan sekali lagi, alhamdulillah, oligarchy yang carut-marut ini membentuk kekuasaan sektor-sektor publik yang terprivatisasi secara majemuk menciptakan represi politik secara tajam di setiap sisi. dan akhirnya, setiap politisi justru saling menelanjangi kesalahannya sendiri-sendiri.
inilah, korup yang mengakar pilihannya dua, dima'fu (oleh Gusti Allah), atau disapu. :D
intinya, ruang-ruang publik untuk dapat berkomunikasi antara satu sama lain, dalam tiap level, perlu diciptakan. yaitu ruang-ruang yang deliberatif. tiap-tiap pihak menundukkan egonya, sehingga satu sama lain bisa saling mengkoreksi dan memberikan jalan keluar, tindakan komunikatif adalah pilihan tepat dengan semangat pencerahan, dalam beban modernisme. untuk menjadi oposisi bagi ciri khas demokrasi modern yang oligarkhis. [12:21 wib, rabu/3/8/11, ide kebutan]

Hukum Penalaran dan Ilmu Hukum

  Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut ultricies efficitur nunc id accumsan. Aliquam quis facilisis felis. Integer...