Monday, August 15, 2011

The Innovation Killer



title: The Innovation Killer
pub.: amacom | new york | 2006
pages: xx + 219 pages

---

excerpt from the book:

we face dilemma. when it comes to innovation, the same hard-won experience, best practices, and processes that are
the cornerstones of an organization’s success may be more like millstones that threaten to sink it. said another way, the weight of what we know, especially what we collectively ‘‘know,’’ kills innovation. Yet in many fields what we must know in order to make even the most basic contribution is ever-increasing.

it is a paradox. the paradox of expertise. you can’t innovate with it. you can’t innovate without it.
why can knowledge and experience be so lethal to innovation?

because when we become expert, we often trade our ‘‘what if’’ flights of fancy for the grounded reality of ‘‘what is.’’ But insight and innovation require a certain lightness of mind. perhaps Wilbur and Orville Wright, two brothers with high-school educations who earned their living building bicycles, didn’t know enough to realize they were attempting the impossible when they first defied gravity in a powered aircraft on December 17, 1903 in Kitty Hawk, North
Carolina. If they had been the recipients of more formal education, would they have had the attitude that Orville illustrates with this quote? ‘‘If we worked on the assumption that what is accepted as true really is true, then there would be little hope for advance.’’

perhaps not. noted economist and Princeton professor emeritus, William J. Baumol, wrote a paper entitled ‘‘Education for Innovation,’’ outlining the negative impact formal education can have on innovative thinking capability because it so completely indoctrinates individuals in the expert thinking of a field. He notes that many breakthrough inventions are the work of individuals who have relatively low levels of formal training. Citing the Wright Brothers as well as other relatively under-formally-educated examples—such as Bill Gates, Thomas Edison, and Steve Jobs—Baumol introduces the hypothesis that education meant to help a student master a subject might be completely at odds with fostering innovation in that subject.

now contrast this caution against overeducation with the obvious fact that without increasing levels of knowledge there would be no progress. Professor Benjamin Jones of Northwestern University recalls Isaac Newton’s famous words of 1676, ‘‘If I have seen further it is by standing on the shoulders of giants.’’ He then notes that ‘‘if one is to stand on the shoulders of giants, one must first climb up on their backs, and the greater the body of knowledge, the harder this climb becomes.’’ He asserts that over time the educational burden will continue to increase as would-be innovators strive to learn what their predecessors knew and then go beyond it. As one proof-point of this assertion he notes that the average age at which great inventors and Nobel Prize winners introduced their ‘‘great innovations’’ increased by six years during the last century.

this statistic isn’t difficult to believe. few would argue that modern aeronautics engineers need to know everything the Wright Brothers did plus the knowledge accumulated in over a century since then in order to contribute meaningfully to the development of new airplanes. Or, that the knowledge required to invent the wheel was minuscule compared to that required to build a Toyota Prius or a Mercedes Benz today. Or, even that business managers need to have a deeper understanding of organizational science, manufacturing techniques, and financial models than the business owners of earlier generations.

---

the book content:

[part 1] what’s weighing us down
chapter 1. our own worst enemy: how the burden of what we know limits what we can imagine
chapter 2. groupthink: the strongest force on earth: why sustained innovation is so darned hard: part 1
chapter 3. expertthink: groupthink on steroids: why sustained innovation is so darned hard: part 2

[part 2] zero-gravity thinkers
chapter 4. time travel to see the naked emperor: the benefit of psychological distance
chapter 5. just curious: the benefit of renaissance tendencies
chapter 6. smart about something else: the benefit of related expertise

[part 3] defying gravity
chapter 7. the collaborator: what does a zero-gravity thinker actually do?
chapter 8. when and where . . . when do you need a collaborator and where do you find one?
chapter 9. how to work with a zero-gravity thinker: eleven questions and answers
chapter 10. do-it-yourself weightless thinking: losing the weight of expertise on your own
chapter 11. the courage to go where no one has gone before: the role of the leader

---

u can buy this book in amazon.com:

innovation killer

Sekelumit Sejarah Psikoanalisa (Sigmund Freud)



judul: Sekelumit Sejarah Psikoanalisa
penerbit: Gramedia | Jakarta | 1983
tebal buku: xii + 148 halaman

---

sejarah psikoanalisa menegaskan bahwa istilah "psikoanalisa" pada mulanya hanya dipergunakan dalam hubungan dengan pemikiran Freud tentang hidup psikis manusia, sehingga "psikoanalisa" sana artinya dengan "psikoanalisa Freud". dengan menegaskan itu diakui bahwa Freud merupakan pemimpin gerakan psikoanalisa, yang timbul di daratan Eropa lalu menyebar ke inggris, amerika serikat, dan ke seluruh dunia. dialah pencetus dasar-dasar pemikiran psikoanalisa, yang berkembang sampai sekarang. gerakan psikoanalisa berhasil membawa manusia semakin jauh melangkah ke dalam medan rahasia pribadi manusia.

dua karangan asli dari Freud yang dipilih untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dr.K.Bertens, dosen filsafat pada sekolah tinggi driyarkara (jakarta) dan fakultas psikologi universitas indonesia menggambarkan perkembangan pemikiran dan gerakan psikoanalisa. kekhususan dari dua karangan terpilih ini adalah bahwa Freud memperkenalkan psikoanalisa kepada pembaca awam secara ringkas tetapi mengenai intisarinya.

---

buku ini adalah pengantar kepada studi Freud sendiri tentang psikoanalisa.

---

Psychopathology of Everyday Life (Sigmund Freud)



judul: The Psychopathology of Everyday Life | Sigmund Freud
penerbit: Penguin Books | Middlesex, England | 1976
tebal buku: 384 halaman.

---

The Psychopathology of Everyday Life has possibly done more than any other book to popularize psychology. Freud wrote it deliberately for the ordinary reader at the turn of the century and, as fresh editions appeared, constantly added new illustrations and anecdotes without changing his basic theories. Though hardly any of his work has been so frequently printed and so widely read, it is a curious fact that this translation, made by Alan Tyson, contains the first full English text of Freud's book in its final and greatly expanded form.

Here, with brief examples that are endlessly intriguing, we have the simple but convincing explanations of things that are familiar to everybody: the sudden forgetting of proper names, of sets of words, impressions and intentions; childhood and 'screen' memories; bungled actions and other errors; and all those little, significant mistakes of tongue and pen that have to be called 'Freudian slips'.

---

pada awalnya Freud mendapat banyak kritik sehubungan dengan metodenya yang dikenal dengan 'Psikoanalisa Freud', terutama karena pandangannya bahwa represi atau stress yang dialami seseorang adalah karena tekanan yang bersifat seksual yang ia dapatkan sejak masa kanak-kanak, sanggahan atau kritik atas Freud adalah bahwa tidak benar anak-anak memiliki tekanan semacam itu karena hal yang bersifat seksual yang mampu memberikan efek represi hanya didapatkan sejak seseorang itu menginjak usia dewasa atau remaja.

nama Freud sendiri seringkali dikaitkan secara serta merta terhadap bidang psikoanalisa, tetapi Freud menyanggahnya, karena sebelum dirinya ia mengetahui bahwa seorang dokter telah melakukan penelitian permulaan yang kemudian memperkenalkan Freud pada bidang analisa psikologis.

dokter yang menerapkan metode ini sebelum Freud adalah seorang dokter yang juga warga Wina, Dr. Josef Breuer. saat Breuer melakukannya Freud mengatakan bahwa dirinya saat itu masih di bangku kuliah dan sedang mempersiapkan ujian terakhirnya. penjelasan tentang ini dapat anda baca pada review tentang buku Freud yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, yaitu buku 'Memperkenalkan Psikoanalisa' (Lima Ceramah), berisikan lima ceramah yang disampaikan oleh Freud dalam berbagai forum untuk mempromosikan psikoanalisa.

secara istimewa buku psychopathology ini menjelaskan tentang berbagai bentuk 'slips' tentang berbagai hal-hal sederhana dalam kehidupan, slips tersebut menunjukkan adanya pengaruh tekanan psikis dalam diri seseorang.

memang secara detail bisa dikatakan bahwa apa yang dilakukan psikoanalisa adalah bertujuan untuk secara perlahan dan teliti mengorek masalah kejiwaan seseorang secara mendalam, dan merunutnya hingga ke masa lalu, bahkan sampai ke masa kanak-kanak. sebagaimana Breuer menemukan bahwa seorang gadis, pasien yang ia tangani, sebagaimana disimak oleh Freud, mengalami tekanan karena kecintaannya pada ayahnya. pada masa kritis ayahnya, si gadis mendampingi dan merawat ayahnya, tetapi itu terpaksa ia hentikan ketika ia jatuh sakit. hal inilah yang menjadi sebuah tekanan psikis yang ia bawa hingga usia dewasa. dalam kasus ini si pasien secara represi mengalami tekanan yang mengakibatkan hysteria.

slips yang banyak diurai dalam buku ini cukup menarik. bagaimana banyak kesalahan yang muncul pada keseharian seseorang dikarenakan ia menahan represi kejiwaan, lalu berusaha untuk membuat seolah-olah ia bisa mengatasinya, memanipulasi. kenyataannya itu justru menumpuk represi yang ada, dan demikianlah sesungguhnya tekanan psikis bisa muncul secara berlebihan saat orang menipu dirinya seakan dia tak memiliki masalah. dengan metode Freud, kita bisa berusaha memahami dan mengurainya, lalu mereduksi tekanan itu.

---

daftar isi dari buku ini:

[+] The Forgetting of Proper Names

[+] The Forgetting of Foreign Words

[+] The Forgetting of Names and Sets of Words

[+] Childhood Memories and Screen Memories

[+] Slips of the Tongue

[+] Misreading and Slips of the Pen

[+] The Forgetting of Impressions and Intentions

[+] Bungled Actions

[+] Symptomatic and Chance Actions

[+] Errors

[+] Combined Parapraxes

[+] Determinism, Belief in Chance and Superstition

--- Some Points of View

---

kamus filsafat (dictionary of philosophy)



the space given is always in proportion to the philosophical and historical importance of the subject and research is made easy by bibliography and quotations.

judul buku: Dictionary of Philosophy
penerbit: littlefield, adams & co | Ames, Iowa | 1956
tebal buku: viii+344 halaman

ini adalah kamus filsafat, meliputi di dalamnya adalah berbagai sejarah singkat istilah, konsep pemikiran, hingga tentang tokoh filsafat secara ringkas dan padat.
buku ini, sebagaimana layaknya kamus, disusun menurut abjad, dan tentang pembagian waktu kuno - pertengah - modern tidaklah dipilah berdasarkan urutan, melainkan semuanya dicampur, seperti es campur, lebih nikmat untuk melompat-lompat dari gagasan-ke-gagasan, dari filosof-ke-filosof. penyusunnya tidak seorang diri, tetapi disusun oleh beberapa kontributor yang mapan dalam bidang filsafat.
dikoordinatori oleh dagobert d. runes, yang mengedit sumbangan tulisan dalam tiap input data di kamus ini, yang terdiri dari 72 authorities.
sangat bermanfaat untuk mempelajari filsafat, apalagi saya yang masih awam ini :).

nb: saya nemu waktu jalan-jalan di pasar johar, semarang.

GORAZDE: zona aman (perang bosnia timur 92-95)



ini adalah sebuah novel grafis karya joe sacco, seorang wartawan perang yang sekaligus dengan kemampuan narasi khas novel plus kemahiran berkomik, menceritakan kembali pengalamannya selama berada di bosnia pada masa perang saudara (saya tidak yakin apa bisa dikatakan perang saudara).
pertempuran yang muncul dan dituturkan di sini adalah karena adanya kekacauan otoritas kekuasaan pasca meninggalnya josip broz tito, seorang tokoh yang terkenal sebagai pemersatu negara kesatuan yugoslavia.
dengan penuturan yang hangat dan seperti umumnya novel grafis non-fiksi yang tersusun dalam narasi rapi. 'gorazde' mampu menjelaskan kepada kita bagaimana pertempuran itu berawal dari cerita masyarakat yang mengalaminya. dari ambisi para serbia untuk mendominasi dan mengontrol sepenuhnya kedaulatan seluruh bagian negara dari yugoslavia, dimulai dari perseturuan politik dan kemudian berlanjut kepada pengendalian masa sepenuhnya.
saat malam pertama tiba, mereka yang bosnian sudah merasa adanya suasana mencekam, tetangga-tetangga serbia mereka mulai berpindah dari rumah mereka ke wilayah serbia secara diam-diam, dan ada juga yang dengan terang-terangan sambil mengingatkan kerabat bosnia mereka untuk segera mengungsi. perasaan tentang adanya pembantaian etnis mulai tercium, lalu semakin nyata dan pekat saja.
bagaimana si guide dari joe sacco menceritakan cerita-cerita orang yang jadi saksi mata kejadian-kejadian pembantaian. secara sadis bisa dituturkan juga oleh sacco, meski cukup seram dengan grafisnya yang sederhana. kita tetap bisa memahami cerita mencekamnya, dari awal hingga akhir.

Krisis Legitimasi (Jurgen Habermas)



Judul Buku: Krisis Legitimasi
Penerbit: Qalam, Yogyakarta, 2004
Tebal: x + 380 halaman

Dalam buku ini Habermas menegaskan bahwa analisis Marxis tradisional terhadap kecenderungan krisis dalam sistem kapitalis sudah kuno dengan relatif suksesnya kompromi negara kemakmuran (walfare state). Sebagai gantinya dia menegaskan bahwa krisis yang terjadi dalam ranah ekonomi akan beralih, melalui tindakan (kebijakan) negara, ke ranah budaya. Pada gilirannya krisis ini akan mengancam integrasi sosial, merusak berbagai resource yang dibutuhkan negara demi berlanjutnya pengelolaan sektor ekonomi yang sedang berjalan. Lebih khusus lagi, krisis itu kemungkinan besar akan mengakibatkan hilangnya legitimasi lembaga pemerintahan.

Meskipun tesis ini tidak sepenuhnya baru, namun analisis yang ditawarkan Habermas menjanjikan sebuah formulasi yang lebih akurat tentang mekanisme yang melahirkan efek samping yang tidak dikehendaki ini. Habermas bagaimanapun hanya memposisikan diskusinya dalam Legitimation Crisis sebagai serangkaian usulan programatis [Joseph Heath].

Habermas menyampaikan dalam penjelasan awal Krisis Legitimasi ini. Konsep krisis yang kerap digunakan dalam ilmu-ilmu sosial dewasa ini adalah konsep krisis yang berparadigma sistemik-teoretis. Menurut pendekatan paradigma ini, krisis muncul ketika suatu struktur sistem sosial hanya mampu membuka sedikit sekali kemungkinan pemecahan masalah daripada kepentingan untuk menjaga sistem itu tetap eksis. Berdasarkan pengertian ini, krisis lebih dipahami sebagai gangguan terus-menerus yang hendak menderai-beraikan kesatuan sistem [h.92].

Keberatan yang muncul terhadap konsep sosial-ilmiah semacam ini adalah bahwa is tidak bisa menunjukkan penyebab-penyebab internal yang berasal dari kelebihan-beban yang dirasakan secara "sistematik" yang melemahkan kemampuan dalam melakukan pengendalian atas suatu sistem. Keberatan yang lain adalah bahwa pendekatan semacam ini sering mengalami kebuntuan "struktural" dalam upaya pengendalian masalah dan gangguan yang dihadapinya.

Selanjutnya Habermas memberikan pandangan yang berbeda yang mampu menggiring gagasan untuk menyelesaikan masalah krisis sistematik semacam itu. Habermas memandang krisis yang terjadi dalam sistem-sistem sosial sejatinya bukanlah akibat dari perubahan-perubahan aksidental lingkungan, melainkan lebih merupakan akibat dari tuntutan-tuntutan objektif sistem (system-imperative) yang inheren secara struktural dan yang secara hierarkis tidak dapat didamaikan, apalagi disatukan. Inilah yang dikatakan kontradiksi-kontradiksi yang inheren secara struktural. Untuk dapat mengidentifikasinya harus ditentukan terlebih dulu struktur-struktur esensial mana saja yang dianggap penting bagi eksistensi dan kontinuitas sistem tersebut di masa depan. Setelah struktur-struktur esensial itu dapat ditentukan, maka semua struktur tersebut harus segera dipisahkan dari unsur-unsur lain dalam sistem tersebut. Sebab, jika tidak, sistem tersebut akan berubah, walaupun identitas sistem tidak akan hilang. Karena itu, salah satu kesulitan yang muncul adalah bagaimana menentukan dengan tegas batasan dan keunggulan dari sistem-sistem sosial ini dalam bahasa teori sistem, karena hanya bahasa teori sistem inilah yang dapat membangkitkan keraguan dasariah atas manfaat dari konsep tentang krisis sosial yang sistematik-teoritis.

Susunan isi buku ini adalah sebagai berikut:

[+] Konsep Sosial-Ilmiah Krisis
  • Sistem dan Dunia-Kehidupan
  • Unsur-unsur Pokok Sistem Sosial
  • Gambaran Prinsip Organisasi Sosial
  • Krisis Sistem dalam Kapitalis-Liberal
[+] Kecenderungan Krisis dalam Kapitalisme Lanjut
  • Deskripsi Model dalam Kapitalisme Lanjut
  • Beberapa Masalah Akibat Pertumbuhan Kapitalisme-Lanjut
  • Klasifikasi Kemungkinan Kecenderungan Krisis
  • Teorema Krisis Ekonomi
  • Teorema Krisis Rasionalitas
  • Teorema Krisis Legitimasi
  • Teorema Krisis Motovasi
  • Ikhtisar Singkat
[+] Logika Masalah Legitimasi
  • Konsep Legitimasi Max Weber
  • Hubungan Persoalan Praktis dengan Kebenaran
  • Model Penekanan Kepentingan Umum
  • Akhir Individual?
  • Kompleksitas dan Demokrasi
  • Keberpihakan pada Rasio

Ruang Publik (Jurgen Habermas)



Judul Buku: Ruang Publik
Penerbit: Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2010
Tebal Buku: xviii + 358 halaman

Buku "Ruang Publik" karya Jurgen Habermas ini merupakan kajian tentang kategori masyarakat borjuis, sesuai dengan subjudul di covernya.

[secara lebih detail baca pula ringkasan ulasan tentang Opini Publik-nya Habermas]

Habermas dalam buku ini menyelidiki akar sosiologis dan historis terbentuknya apa yang saat ini disebut dengan Offentlicheit atau ruang publik. Akar-akar tersebut dia lacak jauh sampai ke sejarah Prancis di penghukung Abad Tengah saat para bangsawan dan tuan tanah serta para satria sudah mengadakan pertemuan-pertemuan yang jadi cikal bakal bagi apa yang disebut ruang publik. Namun yang paling mengesankan dari kajian Habermas ini adlah bahwa ruang publik sesungguhnya terbentuk dari kedai-kedai minum di Eropa abad Pencerahan, karena di tempat-tempat seperti inilah para saudagar dan kelas menengah lainnya membicarakan persoalan bisnis mereka yang lambat laun berubah menjadi pembicaraan tentang masalah-masalah kemasyarakatan yang lebih luas. Di titik ini kita akan bertemau dengan apa yang dalam karya-karya Habermas belakangan disebut kepentingan. Persoalan-persoalan yang berkaitan dengan kepentingan mereka disebarluaskan melalui media cetak dengan cara-cara komunikasi yang belum ada sebelumnya. Anda dapat langsung menangkap bahwa gagasan dan teori Habermas tentang komunikasi sebenarnya berawal dari kajiannya tentang media massa dan pola komunikasi dalam rangka meneliti perubahan struktural ruang publik kelas borjuis di Eropa ini.

Ruang Publik yang diidealkan oleh Habermas kiranya adalah ruang dimana setiap masalah bisa dikomunikasikan tanpa kendala, bukan dimana segalanya boleh dilakukan begitu saja. komunikasi yang terbentuk adalah bentuk komunikasi demokratis, timbal-balik dan tiap-tiap pihak bisa menerimanya dengan baik tanpa dominasi.

Habermas dalam buku ini cukup telaten dalam memaparkan penjelasan tentang karakter masyarakat di ruang-ruang publik sejak masa pencerahan.

Hukum Penalaran dan Ilmu Hukum

  Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut ultricies efficitur nunc id accumsan. Aliquam quis facilisis felis. Integer...