Thursday, July 24, 2014

Refleksi Proses Kreatifitas Seorang Tukang Grafis: dari tanpa modal sampai Leadership.

Dari awal kuliahan S1 dulu dimulailah ketertarikan saya pada dunia desain grafis. Di semester awal masuk kuliah sudah aktif di komunitas majalah kampus, dari sanalah mulai rajin oprek komputer dan otak atik berbagai aplikasi. Hal tersebut, dulu, umumnya banyak dilakukan oleh beberapa lembaga kampus dengan dana minim untuk terus berusaha survive dengan keterbatasan perangkat kerja.
Dulu tidak ada yang namanya kursus desain grafis, adanya ya belajar di depan komputer yang biasa dipakai para wartawan kampus untuk input berita dan opini, giliran yang diambil adalah waktu malam, saat para mas-mas penulis itu tidak ada di kampus. Kalau pas tidak ada proses input data majalah atau jurnal atau koran dan buletin kampus, jadilah hari-hari yang bisa habis berjam-jam siang-malam melototin komputer atau mengopreknya, karena ketertarikan sudah menjadi nature dasar para survivor yang dompetnya tipis.
source: edudemic.com

Pada tahun kedua di bangku kuliah, mulailah keliling-keliling untuk mengikuti tawaran teman-teman, yang beberapa aktif di berbagai lembaga/organisasi daerah yang memerlukan jasa saya, ini cukup menarik, karena menjadi modal awal belajar making money dari keterampilan baru yang saya cintai. Dan mulai menabung dan menyambung kebutuhan pokok selama masa kuliah.
Lulus kuliah lantas bergabung dengan salah satu media masa nasional,
masuk di desk artistik dan perwajahan. Diawali dengan ujian masuk kompetitif, Alhamdulillah bisa menyisihkan semua kompetitor, lagi-lagi karena jam terbang dan kecintaan. Dan dilanjutkan dengan pengalaman menarik berinteraksi dengan olah berita, olah grafis, jaringan lebih luas, tenggat cepat harian, dan tuntutan terus menaikkan skill.
Ketika sebuah perusahaan melakukan perombakan manajemen kita juga semestinya sudah siap untuk terus berkembang di jalur yang sudah kita bentuk. Saya kemudian menjadi desainer dan penyedia jasa cetak, proses dari komputer hingga penjilidan sudah cukup memiliki pengalaman di sana seusai lepas dari media masa.
Di tengah lengangnya order dan surutnya pesanan karena mulai banyaknya persaingan di usaha grafis, mulailah saya memasuki dunia cetak digital, sebuah perusahaan besar biro periklanan dan printing digital membutuhkan kemampuan yang saya miliki. Niat untuk terus belajar hal baru pun mendorong saya melaju 80km setiap hari berangkat dan pulang ke tempat kerja. Di sanalah mulai mengelola tim, saya tidak tinggal di ruangan para desainer, tetapi ada di ruangan printing, yang kadang juga ada pesanan mendadak untuk mengedit warna atau menambahkan item ke dalam banner-banner raksasa brand-brand besar yang mampir ke mesin dengan media cetak selebar lima meteran yang saya kontrol, dibantu empat anggota tim lain yang saya koordinasi. Menarik dan mulai belajar untuk memimpin tim bekerja cepat dan hasil optimal.
Setelah itu, melihat terlalu banyaknya polemik di dalam perusahaan yang sebagian besar merugikan saya dan tim, saya memilih mengundurkan diri, dan kebetulan ada hal-hal internal keluarga yang mesti diselesaikan secara intens. Mulailah menjalankan usaha lama, sendiri mengelola usaha desain dari rumah.
Tidak terlalu lama, teman lama mengajak untuk merintis usaha penerbitan serius dan mempercayakan divisi cetak dan perwajahan kepada saya, di sanalah pendidikan tentang pengelolaan kerja yang lebih terkait dengan banyak divisi bisa saya dalami dengan lebih terbuka. Penerbitan itu kemudian berusaha memisahkan sebuah cabang desain dan cetaknya menjadi sebuah usaha terpisah, dan bersyukur saya dipercaya menjalankannya dari mentah hingga terstruktur dengan beberapa anggota tim. Di sanalah untuk pertama kalinya pelajaran tentang mengelola ide dan konsep desain untuk pelanggan bisa lebih luas dan serius.
Selang beberapa masa, lepas dari kisah terakhir di atas, saya mendapat panggilan untuk melanjutkan pendidikan hukum di Univ. Indonesia. Hidup di Jakarta juga menuntut saya untuk lebih aware dengan keterampilan saya, setiap peluang walau kecil dan singkat saya gunakan untuk tetap mengembangkan potensi di dalam jiwa ini untuk terus berkreativitas. Untuk mengumpulkan uang saku, tambahan belanja akademik, buku diktat, buku referensi, dana riset, dan sebagainya.
Selesai perkuliahan, panggilan bekerja di Kantor Pengacara pun saya jalani, tetapi itu kurang memuaskan hati, panggilan hati merasa, saya hanya mau bantu setiap orang dalam mengatasi masalah hukumnya secara free, dan terus berkembang, mengembangkan riset saya di bidang pidana siber-internet (bidang yang muncul dalam benak, dari cabang desain juga, selama beberapa tahun menjadi praktisi desainer web, sekaligus pengembang web. hukum, internet dan desain, ada dalam ruang yang sama di sana). Dana dari mana? kembali, dari skill mendesain.
Kini saya dan lima adik-adik saya di universitas yang dulu menjadi lahan gemblengan awal di majalah kampus, dengan mengamati potensi mereka dan berbaur cukup lama, kami mendirikan usaha baru, sebuah jasa grafis. Saya menyadari, dan dari dulu juga selalu memahami ini, bahwa dalam tim yang solid dan adanya kesamaan gagasan dan visi, di sana tidak ada dominasi pemimpin, tapi peran saya hanya mengkoordinasi.
Kami berenam berusaha mensinergikan energi dan passion bersama, passion untuk mengembangkan kebaikan bersama, melayani siapa saja yang membutuhkan jasa dan mengembangkan diri mereka secara positif, kami memohon kepada Yang Maha Kreatif agar Dia melibatkan kami dalam kearifan-Nya dalam menciptakan dan menebar kebaikan bersama.
Itulah, yang menurut saya, penemuan akhir dari perjalanan panjang. Saya tidak ingin mengekang kreatifitas, saya terus bermimpi melahirkan jagoan-jagoan yang arif dalam membantu sesama dalam berkreatifitas, dan pada ruang usaha baru itu, saya total menumpahkan semua pengalaman masa lalu untuk menjadi pelajaran bagi mereka supaya lebih mawas dan siap berkembang sendiri-sendiri.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala Selalu meridhai jalan kami.
Cinta kami pada-Mu Sang Maha Kreatif ;)

No comments:

Hukum Penalaran dan Ilmu Hukum

  Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut ultricies efficitur nunc id accumsan. Aliquam quis facilisis felis. Integer...